Yang Baik dan Yang Jahat
Dalam setiap kisah superhero, apakah kalian selalu bertanya mana yang baik dan mana yang jahat?
Gara-gara film Snyder’s Cut Justice League kemarin ramai dibicarakan di media sosial, banyak orang-orang yang baru sedikit tahu tentang superhero DC Comics dan jadi penasaran dengan banyaknya ‘pintu terbuka’ di film tersebut. Memang film yang batal rilis 2017 silam ini sepertinya juga dibuat sebagai pembuka jalan untuk film-film DC Comics selanjutnya; Banyak hal-hal yang belum dijelaskan; dibuat bersambung supaya penonton penasaran.
Suatu pagi ketika saya ngopi, seorang teman yang lebih muda dari saya menghampiri dan mengajak saya ngobrol. Rupanya dia tertarik dengan kisah semesta DC setelah menonton Snyder’s Cut. Mengetahui dia belum sepenuhnya mengerti tentang alternate timeline, saya arahkan dia untuk menonton film animasi Flashpoint Paradox, yang ternyata langsung dia cari cuplikan-cuplikan filmnya di YouTube lewat gawai dia.
Cuplikan video pertama yang dia buka memperlihatkan adegan Wonder Woman yang baku hantam dengan Shazam. Dia buru-buru bertanya, “Kok Wonder Woman pukul-pukulan sama Shazam?†Bingunglah saya bagaimana harus menjelaskannya. Hal itu membuat penjelasan saya jadi terdengar bertele-tele bagi dia sehingga membuatnya bertanya lagi, “Terus di antara mereka berdua yang jahat siapa?â€Â
Loh, memangnya kalau ada yang saling pukul, salah satu harus jadi baik dan satunya jadi jahat begitu, ya? pikir saya. Tapi saya memutuskan untuk tidak mengatakannya.
Karena bingung bercampur sebal, saya minta dia lanjutkan saja cuplikan video berdurasi sekitar 10 menit itu saja. Malas sekali saya menjelaskan kepadanya. Belum selesai videonya, dia sudah bisa menyimpulkan, “Oh… ini Aquaman lagi perang sama Wonder Woman, ya?†Namun dia kembali menambahkan, “Berarti yang jahat yang mana, dong?â€Â
Saya mencoba menjelaskan awal konfliknya tetapi dia nampak tidak sabar dan untungnya lebih memilih melanjutkan menonton cuplikan yang lain daripada terus bertanya.
Di video yang baru dia melihat sosok yang belum pernah muncul di semesta Zack Snyder. Dia bertanya, “Itu siapa?†Saya tengok dan kemudian jawab, “Oh, itu Aqualad, seperti Robin di Batman, tapi dia di Aquaman.â€Â
“Oh… dia anaknya Aquaman?â€Â
“Bukan… Toh Robin juga bukan anaknya Batman, selain Damian Wayne.â€Â
“Oh, iya juga.†Dia berhenti berbicara sesaat sebelum kemudian kembali menanyakan pertanyaan terkutuk itu lagi, “Dia baik atau jahat?â€Â
ADUH!
Siapa yang baik dan yang jahat?
Yang benar saja!
Tidak semua cerita superhero itu tentang orang baik yang perlu menghajar orang jahat. Itu, sih, dongeng anak kecil seperti Malin Kundang yang diklaim mutlak jahat dan ibunya yang baik dan teraniaya. Film superhero itu bukan dongeng anak kecil. Kalau kalian menganggap Batman itu baik, saking saja ceritanya disampaikan dari sudut pandang Batman. Andai saja Justice League versi Zack Snyder kemarin yang dijadikan fokus utama cerita adalah Steppenwolf, Batman pasti nampak sebagai sosok licik yang sembunyi di belakang teman-teman dia yang super.
Pertanyaan baik atau jahat memang sederhana, tetapi tidak akan bisa dijawab dengan singkat. Itu seperti menonton pertandingan sepak bola timnas Portugal melawan timnas Korea Utara kemudian ada yang tanya yang jahat yang mana. Nah, coba jawab itu.
Contoh lainnya adalah seperti teman yang sedang saya ceritakan ini. Dalam kisahnya, dia pasti menganggap dirinya hero yang baik. Walaupun dalam kisah saya, dia sedang mengusik pagi saya yang indah bersama secangkir kopi. Jadi ingin rasanya saya guyur saja dia dengan kopi saya yang sudah dingin.
Nah, menurut kalian yang jahat saya atau dia? (A. Wiqoyil Islama)