Puisi: Tiga Untai Sajak Perpisahan
Di momen kita yang sudah terpangkas dan terbatas ini
Izinkan kami mengurai benang-benang isi hati kami
yang mendalam, yang terpendam, dan yang tak sempat kami sampaikan
Berlaksa terima kasih dari kami pun rasanya tak sepadan dengan doa yang kalian udarakan
Pun beribu maaf yang kami suarakan seperti tak cukup untuk menghapus kealpaan
Kini masa telah membawa kami menuju dermaga bernama dewasa
Namun jika tidak ada tangan penuh kasihmu, kami akan berlayar tanpa secarik peta
Di atas pundak kami, ada mimpi, harapan, dan cita-cita yang menunggu untuk kami wujudkan
Kami tahu, kelak kami akan menemui kejemuan, keraguan, kebimbangan, atau bahkan ketakutan
Bapak, Ibu, untuk itu, di sini kami berdiri mengharap doa-doamu
Agar segala bentuk kesulitan yang menanti kami tak membuat kami jatuh
Dan agar setiap titik kegagalan tak membuat kami berhenti tumbuh
Menyaksikan kalian tumbuh hari demi hari menuju dewasa
Membuat dada kami penuh bak ada yang bermekaran di sana
Tapi, kepenuhan itu juga terisi oleh muram yang tak bisa kami sembunyikan
Muram yang datang dengan kesadaran, bahwa akan ada jarak yang merentang antara kita
Tapi, biarkan jarak itu datang bertandang
Ia tak akan bisa membungkam lisanku yang tak henti merapal doa untukmu
dan kupastikan ia tak akan menghentikanmu tumbuh
Tumbuh dan teruslah tumbuh, anakku
Esok jika kau lelah menyandang ransel berisi mimpi-mimpimu itu
Letakkan sebentar, lalu duduk dan berbaringlah bersama kami
Biarkan kami membantu mengusap peluhmu yang mengalir
Tumbuh dan teruslah tumbuh, anakku
Kelak jika kakimu terluka sebab terlalu keras berlari mengejar cita-citamu
Menepilah sejenak, bernapaslah dan rebah di samping kami
Biarkan kami mengobati luka-lukamu sampai kau bisa berdiri lagi
Anakku,
Tiga tahun waktu kita bersama sudah tiba pada penghujungnya
Lembar demi lembar menuju asa telah kita hias dengan untaian cerita
Senyum, tawa, haru, dan bangga, namun terselip pula sendu, sedih, dan air mata
Tidak hanya kalian yang ingin menyampaikan permintaan maaf
Kami pun pasti menyimpan alpa dan khilaf
Cinta kasih yang kami tunjukkan kepada kalian
Mungkin sempat tak sepenuhnya terejawantahkan
Namun, yang perlu kalian ingat
Bagi kami, kalian adalah insan-insan yang membanggakan
Dengan atau tanpa berderet penghargaan
Karena kami yakin, tangan-tangan kalian kelak akan melahirkan keberhasilan
dalam membawa mimpi dan harapan menjadi kenyataan
Anakku,
Selamat meneruskan perjalanan menjemput kegemilangan masa depan
Kami yakin, esok kita akan bertatap sapa kembali dalam kesuksesan dan kebahagiaan
(Khurin Wardani Fitroti)