Tersesat Karena Filsafat?
“Filsafat membosankan! Bisa bikin orang jadi atheis! “
Kurang lebih begitu ucap seorang teman saya waktu kami membicarakan tentang filsafat. Sebenarnya boleh saja kita beranggapan seperti itu. Namun, adakalanya kita perlu menilik lebih lanjut untuk apa filsafat lahir dan hadir kalau tidak berguna untuk kehidupan kita.
Pertama kali tahu tentang filsafat, saya dikenalkan dengan beberapa pendekatan. Dari sekian banyak pendekatan, hanya dua istilah yang mampu saya ingat. Epistemologi dan ontologi, yang jika ditanya apa artinya, saya akan memilih kabur saja.
Memang sejak pertama kali diperkenalkan, topik mengenai filsafat tidak pernah menarik perhatian saya. Jangankan menarik, terlintas di pikiran saja tidak. Sampai akhirnya seorang teman meminjamkan buku miliknya yang katanya recommended untuk saya baca, salah satu bukunya tentang filsafat.
Buku-buku ini saya konsumsi saat masa-masa awal pandemi. Efek pandemi yang sedang melanda dunia membuat mungkin sebagian kita pernah merasakan yang namanya karantina, termasuk saya. Saya mulai punya waktu luang dan punya cukup banyak kesempatan untuk membaca. Tentu bukan hanya buku-buku self–improvement yang judulnya sering bertengger di rak Gramedia, melainkan juga sering membaca timeline social media.
Kemudian, suatu waktu saya mendapatkan sebuah istilah yang diucapkan oleh Raditya Dika di salah satu platform media sosial miliknya. Kurang lebih seperti ini,
“Gue sadar nggak semua orang bisa jadi practical stoic seperti gue.â€Â
Dari situ saya mulai tambah penasaran dan mencari tahu apa itu practical stoic. Kata kunci practical stoic saya ketikkan di mesin pencarian. Setelahnya, saya mendapatkan banyak sekali informasi.
Saya baru tahu kalau ada banyak sekali aliran filsafat di dunia. Saya baru tahu juga kalau salah satu di antaranya bernama stoicism atau filsafat stoa. Stoic sendiri merupakan sebutan bagi para praktisinya. Alhasil, saya baru tahu kalau filsafat tidak seburuk dan seabstrak yang ada di pikiran saya.
Satu per satu literatur saya baca. Pada intinya, filsafat stoa adalah sebuah paham tentang pemisahan kendali yang dalam stoicism dikenal dengan istilah dikotomi kendali. Ia mengajarkan kita untuk memilah mana saja hal yang berada di bawah kendali kita dan mana yang bukan. Selanjutnya, tugas kita sebagai manusia hanyalah memedulikan apa yang berada di bawah kendali kita dan mengabaikan semua hal yang berada di luar kuasa kita.
Lalu, sebenarnya apa yang saja yang bisa kita kendalikan?
Kita hanya mampu mengendalikan segala hal yang bersumber dari diri kita sendiri. Persepsi, pikiran, dan perasaan kitalah yang sepatutnya menjadi fokus utama. Sebaliknya, persepsi, pikiran, dan perasaan orang lain tidak seharusnya menjadi sesuatu yang perlu kita pusingkan.
Misal, sebaik apapun kita bekerja, penilaian atasan mengenai hasil kinerja kita bukanlah hal yang bisa sepenuhnya kita kendalikan. Banyak hal yang bisa memengaruhi, bisa jadi atasan memberikan penilaian buruk karena sedang punya masalah personal dengan kita atau faktor lain yang di luar kendali kita. Who knows? Sebagai gantinya, kita hanya perlu mengubah fokus kepedulian pada cara memaksimalkan kemampuan diri untuk menjalankan tugas sebagai pekerja maupun sebagai manusia. Itu saja.
Selain dikotomi kendali, stoicism mengenalkan saya pada beberapa prinsip yang menurut saya menarik. Menarik karena sangat mungkin untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus memberikan dampak yang cukup signifikan serta menenangkan untuk saya secara pribadi. Beberapa prinsip tersebut antara lain premeditatio malorum, memento mori, dan amor fati. Ketiganya akan saya bahas satu persatu, tentunya sesuai dengan pemahaman saya.
Premeditatio malorum (preparation for the worst)
Premeditatio malorum mengajarkan saya untuk menyiapkan segala hal terburuk yang mungkin terjadi setiap harinya. Setiap pagi sebelum memulai aktivitas, bahkan sebelum beranjak dari tempat tidur, saya membayangkan akan pergi ke mana saja pada hari itu, apa yang akan saya lakukan di tempat-tempat tersebut, dan siapa saja yang mungkin akan saya temui di sana. Setelahnya, saya membayangkan kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi ketika saya pergi ke sana, ketika saya berada di perjalanan, ketika sampai di sana, ketika bertemu dengan orang-orang yang telah saya bayangkan sebelumnya sehingga ketika hal buruk yang saya bayangkan sebelumnya benar-benar terjadi, saya tidak kaget.
“Lah, ngapain kaget? Ini kan sudah kuduga sebelumnya,†begitu kira-kira suara hati ini berbicara.
Bagi saya, premeditatio malorum merupakan sebuah usaha untuk mengurangi efek keterkejutan. Ketika rasa kaget dapat diminimalisasi, saya dapat berpikir lebih jernih untuk mencari solusi atas kejadian buruk yang terjadi.
Memento mori (remember you will die)
Memento mori mengajarkan saya untuk senantiasa mengingat bahwa saya bukanlah makhluk yang imortal. Suatu saat, saya pasti akan mati. Memento mori meminta kita untuk membayangkan seakan-akan hari ini merupakan hari terakhir kita ada di dunia. Seperti ini kira-kira:
Hari ini adalah terakhir kali saya bisa bangun pagi
Hari ini adalah terakhir kali saya berangkat ke kantor
Hari ini adalah terakhir kali saya pergi ke kafe
Hari ini adalah terakhir kali saya terjebak macet
Hari ini adalah terakhir kali saya bertemu orang-orang
Apa yang akan kita lakukan jika hari ini adalah yang terakhir?
Beribadah dengan sungguh-sungguh agar bisa masuk surga yang dijanjikan?
Berbuat baik ke setiap orang agar kita dapat tersimpan dengan indah dalam memori-memori jangka panjang?
Membantu para nenek menyeberang jalan?
Meminta maaf ke orang yang pernah kita sakiti?
Atau justru bersenang-bersenang?
It’s all yours.
Melalui memento mori, kita diharapkan dapat selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam hal apapun, semampu kita dan memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.
Amor fati (love of fate)
Yang terakhir yakni amor fati. Amor fati mengajarkan saya untuk mencintai takdir. Mencintai apapun peristiwa yang saya hadapi. Bahwa semua situasi yang sedang saya alami saat ini adalah yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.
Dalam menjalani kehidupan, tentunya kita disibukkan dengan hal-hal yang bersifat duniawi dan hal-hal yang jauh dari jangkauan kita. Mungkin sering kita terima kenyataan hidup yang pahit, emosi yang selalu membara dan kekecewaan yang tak kunjung reda. Karena kita terlalu mengurusi yang bukan menjadi kendali kita, dan kita sendiri menaruh ekspektasi besar disana.
Salah seorang filsuf, Socrates, memberikan catatan bahwa sebenarnya kita manusia punya daya untuk bisa menyembuhkan luka diri sendiri. Sehingga mudah kita pahami, bahwa filsafat mampu digunakan sebagai obat untuk jiwa.
Melalui ketiga prinsip di atas, saya merasakan perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasa lebih tenang dan lebih mampu mengantisipasi segala sesuatu dengan menerapkan premeditatio malorum. Saya merasa lebih puas atas setiap usaha saya dengan menerapkan memento mori. Saya tidak lagi menyalahkan hidup setiap kali membuka mata di pagi hari dengan menerapkan amor fati.
Jika kembali ke pertanyaan awal, “Apakah kita akan tersesat dengan mengenal filsafat?†Jawaban saya tentu saja, “Tidak!†Sebaliknya, tanpa mengenal filsafat khususnya stoicism, mungkin saat ini saya masih ‘tersesat’. (Nasrul Anas)