
Puisi: Tawa yang Hening
Kita menghadirkan tawa yang terlalu sering
untuk meredam bising di kepala yang terlalu nyaring
Lalu pada saat seluruh dunia hening
kita baru sibuk meratapi luka-luka yang tak kunjung kering
Dan pada saat fajar menjelang
Kita terjaga dari lelap yang tak panjang
menyadari bahwa hidup yang kita jalani terasa rumpang
mebab sebagian diri kita ada yang hilang
Tapi mereka tentu tidak tahu
tentang luka-luka yang tak kunjung luruh itu
pun duka-duka yang sudah lusuh tak terbasuh itu
Aku menunggu, dan menebak-nebak apa yang akan mereka katakan
jika tirai yang tertutup rapat itu aku sibakkan
sebab selama ini mereka tak pernah alpa menghujani selamat atas sebongkah pencapaian
padahal yang kunanti adalah ucapan bela sungkawa atas apa-apa yang aku korbankan
(Khurin Wardani Fitroti)