Sulap Sampah Jadi Karya Melalui Proyek Integrasi Gaya Hidup Berkelanjutan
Proyek Integrasi (PI) merupakan salah satu program yang ada di MTs Surya Buana sejak tahun 2017. Konsep proyek integrasi awalnya mengolaborasikan mata pelajaran serumpun, yaitu rumpun agama (Akidah Akhlak, Fikih, Quran Hadis, dan SKI), rumpun bahasa (Arab, Indonesia, Inggris, Jawa), rumpun sains (IPA, KIR, Matematika, PJOK, TIK), dan rumpun sosial (IPS, PPKN, Seni Budaya) untuk membuat proyek yang dikerjakan oleh peserta didik dalam kurun waktu satu bulan. Sejak tahun pelajaran 2023/2024, jenjang kelas 7 MTs Surya Buana sudah menerapkan Kurikulum Merdeka, yang mana terdapat muatan kokurikuler berupa P5P2RA (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin), Untuk selanjutnya, pada jenjang ini pelaksanaan proyek integrasi melebur dengan P5P2RA dalam implementasi kurikulum merdeka dan dinamai dengan PIP5P2RA. Proyek ini dilaksanakan pada hari Jumat sealma empat pekan.
Terdapat empat tema besar yang diusung dalam PIP5P2RA, yakni gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, bhineka tunggal ika, dan bangunlah jiwa raga. Pada tema gaya hidup berkelanjutan, judul yang diusung adalah Sampahku Bahan Kreasiku. Tujuan dari proyek ini adalah agar peserta didik mampu memahami dampak dari aktivitas manusia, baik jangka pendek maupun panjang, terhadap kelangsungan kehidupan di dunia maupun lingkungan sekitarnya. Hal yang ditekankan di sini adalah membangun kesadaran untuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan serta mencari jalan keluar untuk masalah lingkungan. Alur proyek ini yaitu dimulai dengan kuliah umum dan aktualisasi pada pekan pertama, aksi nyata pada pekan kedua dan ketiga, serta refleksi dan tindak lanjut pada pekan keempat.
Pada kegiatan kuliah umum, peserta didik disajikan fakta terkait gaya hidup manusia saat ini yang berujung pada produksi sampah makanan yang mencapai 1,3 milyar ton per tahun. Belum lagi sampah kemasan dari berbagai barang kebutuhan seperti plastik, kertas, kain, kaleng, kaca, dan material lainnya yang bersifat tahan lama hingga akhirnya terkumpul di berbagai belahan dunia. Di daratan, sampah yang terus ditumpuk akan menggunung, membusuk, menimbulkan bau, terbakar, dan longsor. Semua kondisi tersebut jelas mengancam kesehatan dan keselamatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Selanjutnya peserta didik diajak untuk mencari informasi terkait pengertian sampah, klasifikasi sampah, bahaya sampah, serta metode dalam pengelolaan sampah.
Dalam kegiatan refleksi, peserta didik diminta untuk mencari dan mendokumentasikan berbagai jenis sampah yang ditemukan di lingkungan sekolah maupun tempat tinggalnya. Selanjutnya, peserta didik diminta mengklasifikasikan jenis sampah yang ditemui, menentukan sampah apa yang paling banyak ditemui, memberikan alternatif solusi pengelolaan sampah tersebut, serta memilih salah satu alternatif untuk dijadikan proyek yang akan dikerjakan. Ada berbagai macam sampah yang banyak ditemui oleh peserta didik di lingkungan sekitarnya, yaitu sampah plastik bekas bungkus makanan, botol plastik, kertas, hingga kain perca. Bersama dengan kelompok yang sudah dibentuk dengan beranggotakan 3 – 4 orang, mereka mulai menyusun rencana proyek yang akan dibuat, yakni meliputi judul, tujuan, alat dan bahan, serta langkah kerja dari proyek tersebut.
Terdapat berbagai macam proyek yang dipilih oleh peserta didik, antara lain pembuatan tempat sampah dengan memanfaatkan sampah kertas, sapu ijuk dari sampah botol dan kayu, dompet dari sampah plastik bungkus mi instan, taplak dari kain perca, lampu belajar dari sampah kertas, bungan dari samah botol plastik, vas dari wadah kaca bekas makanan dan sampah cangkang telur, wayang dari karton bekas, dan berbagai produk kreasi lainnya. Pada tahap refleksi, masing-masing kelompok mulai mengumpulkan sampah beserta alat dan bahan yang mereka butuhkan, membuat produk yang direncanakan, serta menghias produk tersebut. Peserta didik nampak antusias dalam berkolaborasi membuat produk yang telah mereka rencanakan.
Pada pekan terakhir, peserta didik mempresentasikan secara bergantian terkait kinerja kelompoknya masing-masing. Mereka menyampaikan laporan, produk, poster, serta video dokumentasi dari proyek yang mereka kerjakan. Setelah presentasi usai, dilaksanakan refleksi bersama peserta didik terkait apa saja yang mereka peroleh, apa saja manfaat, hal menantang, kendala yang dialami dalam menyelesaikan, serta saran perbaikan yang bisa dilakukan pada proyek ini. Dengan adanya program PIP5P2RA ini, diharapkan memberi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi, kompetensi, dan memperkuat karakter, serta memberi pengalaman nyata untuk membentuk kepedulian terhadap lingkungan dan komunitas sekitarnya. (Elyta Dia Cahyanti)