
Siswa Matsasurba Goes to Kampung WIsata Keramik Dinoyo
Outing Class merupakan kegiatan belajar di luar ruangan. Outing class sudah menjadi kegiatan rutin MTs Surya Buana. Selasa, 5 Maret 2024 siswa kelas 9C melaksanakan outing class menuju Kampung Wisata Keramik Dinoyo. Para siswa terlihat sangat antusias dan bersemangat. Kampung Keramik menjadi tempat tujuan Outing Class karena lokasinya yang dekat dari sekolah.
Destinasi ini dinamakan Kampung Wisata Keramik karena hampir setiap rumah di sana memproduksi dan mengolah keramik menjadi barang yang bermanfaat atau sebagai hiasan rumah, contohnya seperti guci, vas bunga, tempat garam atau merica, aneka suvenir, dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut dijual sebagai cendera mata atau keramik hias yang terbuat dari Keramik. Cendera Mata tersebut dipajang di teras dan kaca rumah warga. Masyarakat yang melewati Kampung Keramik pasti akan melihat banyaknya rumah produksi Cendera Mata dari keramik.
Selain warga yang memproduksi cendera mata, di Kampung Keramik juga terdapat Pabrik Keramik yang juga memproduksi cendera mata olahan keramik. Pabrik inilah yang menjadi tujuan outing class siswa MTs Surya Buana. Di tempat tersebut, para siswa bisa mengamati cara membuat berbagai barang dari keramik.
“Pabrik ini mulai dikembangkan tahun 1955. Karena sudah terbiasa membuat gerabah dari tanah liat, tinggal alih teknologi, lalu berkembang keramik porselen. Di awal-awal, kita pernah membuat alat makan, minum, dan peralatan teknik,†ucap Samsul Arifin pemilik Pabrik Keramik Dinoyo.
Samsul Arifin tertarik pada usaha keramik karena merasa senang dan hobinya dapat dikembangkan menjadi usaha. Keramik Dinoyo juga sudah dikenal sejak dulu. Keramik berasal dari tanah liat yang dibentuk dan kemudian dibakar menjadi keras. Keramik sendiri memiliki berbagai kategori, yaitu gerabah, stoneware, porselen, dan hard porselen. Dari sini keramik mulai dikembangkan menjadi bermacam-macam barang, seperti guci, vas bunga, wadah ritual seperti sesajen, dan lain sebagainya.
Siswa kelas 9C dijelaskan mengenai proses pembuatan keramik hias dimulai dari membuat desain model yang akan digunakan untuk proses pembuatan cetakan. Bahan yang digunakan, yakni tepung gipsum. Setelah itu, para siswa belajar mengolah bahan, membentuk (slip casting), menuang slip casting massa body ke dalam cetakan hingga massa mengeras pada dinding-dinding rongga cetakan. Selanjutnya, sisa massa ditumpahkan, kemudian benda hasil bentukan dilepas dari cetakan. Setelah itu dilanjutkan dengan proses finishing, yakni menghilangkan sirip haluan casting, mengamplas, dan dikeringkan. Kemudian proses dekorasi, pengglasiran, penyusunan. Benda-benda yang sudah diglasir disusun pada ruangan pembakaran. Pembakaran menggunakan bahan bakar LPG hingga temperatur 1220â°C dan menghabiskan waktu 10 jam, lalu dilakukan proses pendiginan selama 24 jam dan dikeluarkan dari ruang pembakaran untuk dilakukan pengecekan. Setelah itu, dilanjut dengan proses pemberian aksesories. Terakhir, produk siap dipasarkan. Dari penjelasan tersebut, siswa kelas 9C bisa mengetahui proses pembuatan keramik hias.
Pada akhir kegiatan, siswa kelas 9C disuguhi gelas dan alat lukis untuk dilukis. Mereka tampak sangat senang dan antusias. Terlihat gelas sudah dilukis dengan berbagai gambar dari imajinasi mereka. Gelas hasil karya mereka disediakan untuk mereka dan dibawa pulang masing masing. Setelah itu para siswa berfoto bersama. Mereka begitu sangat bahagia dan bersemangat. (Kholifaturohmah/Kelas 9C)