
Cerpen: Senja Terindah di Pantai Sanur
Hari itu merupakan hari yang buruk bagiku, karena aku sedang berada dalam suatu masalah, tetapi aku tidak berani menghadapinya dan aku hanya diam dan berusaha menguburnya dalam-dalam.
Di saat pikiranku rasanya sudah tidak dapat berfungsi, dalam kondisi kalut itu aku berlari ke Pantai Sanur yang saat itu airnya mulai pasang. Aku tahu sebentar lagi di sini akan masuk waktunya sandikala. Pergantian waktu dari sore ke malam. Dan sebetulnya saat seperti itu memang tidak baik menyendiri. Tetapi aku tidak peduli, aku hanya ingin sendiri sambil melihat matahari meninggalkan bumi.
Aku memilih duduk di hamparan pasir yang tidak begitu putih dengan menatap beberapa perahu nelayan yang berputar di tengah lautan. Terlihat juga para turis asing yang sedang bercengkerama dengan ombak melalui papan selancar mereka.
“Apakah mereka semua tidak punya masalah?” gumamku di dalam hati.
Mataku menikmati suasana pantai, tetapi tidak dengan hatiku yang masih saja terus berkecamuk, seolah berperang di dalam jiwaku. Tiba-tiba aku mendengar suara sapaan yang terdengar samar karena bersaing dengan deburan ombak.
“Hai Gek, sedang apa di sini?” ujar seorang gadis cantik dengan kulit yang eksotis.
Gek adalah singkatan dari kata jegeg (bahasa Bali) yang artinya cantik dan biasanya ditujukan untuk remaja. Jujur saja, aku nyaris terperanjat mendengar sapaan itu, apalagi aku tidak mengenalnya sama sekali. Dan ini seperti halusinasi ketika aku menatap gadis yang tiba-tiba saja muncul di sebelahku itu. Aku terdiam, dan sekilas menatap ke wajahnya yang begitu rupawan seperti putri Moana di film kartun.
“Gek, ngapain di sini?” Kembali ia menegurku dengan senyum manisnya.
“Oh iya, Mbak. Aku cuma menunggu sunset,” jawabku dengan kikuk.
“Sama kalau begitu, aku pun ingin melihat sunset tapi tadi tidak ada teman. Makanya ketika aku lihat Gek sendiri, aku ke sini,” jelasnya.
“Oh iya, namaku Ni Kadek Asri, panggil aja Asri, nama kamu siapa?” tanyanya kembali sambil mengulurkan tangan ke arahku.
“Iya, namaku Melia,” jawabku sambil menerima uluran tangannya. Aku merasa kehangatan yang begitu mendalam terpancar dari gadis ini, aura positifnya terasa begitu besar.
“Indah ya ciptaan Tuhan, aku banyak belajar dari lautan ini,” ujar Asri.
Matanya tetap menatap laut lepas. Jujur, aku tidak mengerti apa yang Asri maksud, “Tunggu, apa maksud mu belajar dari lautan?”
Sembari tersenyum ke arahku, Asri berkata, “Waktu itu aku belajar dari ombak yang datang di bibir pantai. Aku menangkap filosofinya bahwa manusia harus menjadi diri sendiri dan bertanggung jawab kepada diri sendiri. Masalah hidup selalu ada seperti ombak di tepi pantai. Ia akan datang sesegera mungkin, tetapi pada saatnya, ombak itu akan pergi dengan cepat pula.”
“Oh begitu ya?” Aku mengangguk seolah mengerti. Padahal aku belum menangkap makna dari omongannya.
“Dan aku juga belajar dari kesalahan Mel,” sambung Asri kembali.
“Kesalahan? Maksudmu apa Gek?” tanyaku dengan heran.
“Aku pernah melakukan kesalahan dan aku berusaha kabur dari masalah itu, tapi apa yang aku dapat? Malah minimbulkan masalah baru Mel,” ujarnya panjang lebar.
“Mel, kamu lihat sampah yang ada di tepi pantai itu? Semua itu akan terus menumpuk dan akan tenggelam ketika ombak datang menariknya, akibatnya lautan akan penuh sampah dari daratan. Lautan menyimpan beribu sampah selama tidak ada manusia yang berinisiatif untuk membersihkannya.”
Aku berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja Asri ucapkan. Aku terdiam menatap lautan yang ombaknya seakan ingin menerjangku.
“Maksudmu kita jangan menghindari masalah ya, Gek? Apa kita harus menghadapi dan menyelesaikannya?” tanyaku yang mulai memahami maksud Asri tadi.
“Benar, Gek. Manusia terkadang sering berusaha lari dari masalah dengan membuang atau menguburnya, padahal masalah itu tetap akan muncul dan bertambah banyak,” ucap Asri.
Aku tertegun mendengar pemikiran gadis itu. Aku serasa mendapat tamparan keras. “Kalau begitu bagaimana cara manusia agar tidak lari dari masalah?” tanyaku kembali.
“Dengan menghadapi dan menyelesaikannya. Geginane buka nyampat, anak sai tumbuh luu. Seperti pekerjaan menyapu, setiap hari selalu mendapati sampah,” Asri berkata dengan menyelipkan salah satu syair dari Pupuh Ginada, gending tradisional Bali. Aku hanya bisa terdiam.
Pada saat yang bersamaan, di ujung lautan matahari mulai hilang perlahan meninggalkan belahan dunia ini. Hatiku tidak karuan, berkecamuk dan gelisah.
“Gek, sudah sandikala, pulanglah! Berdoa pada Tuhanmu, keluarkan semua masalahmu, yakinlah semua akan selesai,” Asri menasehati dengan suara yang tulus.
Aku masih tidak bisa berkata apa-apa, hanya buliran air mata telah membasahi pipiku. Asri memegang bahuku sambil berkata kembali, “Pulanglah, jangan disini lagi, aku juga mau pulang, Gek.”
Aku hanya mengangguk sambil tetap menunduk, seraya berdiri Asri berjalan menjauh tanpa aku sempat menanyakan rumahnya.
Suasana dipantai mulai gelap, sayup-sayup aku mendengar suara azan dari masjid yang berada tidak jauh dari Pantai Sanur. Aku berdiri dengan lunglai, tapi aku tahu kesalahanku yang menghindari masalah hanya karena aku takut menghadapinya. Namun, saat ini aku sadar dan yakin untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Aku punya Allah sebagai tempat mengadu. Aku merasa ada sebuah kekuatan baru muncul di dalam diriku. Akhirnya dengan langkah yang pasti aku berjalan menuju rumahku. Aku akan melaksanakan salat magrib dan menumpahkan semua masalah dalam sujudku. Aku yakin, bisa melewati masalah ini.
Jangan katakan, “Wahai Allah aku punya masalah besar,” tapi katakan, “Hhai Masalah. Aku punya Allah Yang Maha Besar. (Maheera Raysha Aisyah Supratman/8B)