Cerpen: Pulang
“Pemirsa, pada hari Sabtu tepatnya tanggal 1 Oktober 2022, dikabarkan telah terjadi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan setelah pertandingan Arema FC melawan Persebaya. Menurut data yang kami dapat, lebih dari 121 orang tewas karena sesak napas, terinjak-injak, dan terluka karena berimpit-impitan di Stadion Kanjuruhan, Malang. Angka ini dipredikisi akan bertambah seiring dengan penyelidikan yang dilakukan. Terjadinya kerusuhan ini berawal dari laga Arema FC vs Persebaya yang berjalan dengan skor 3-2 untuk kemenangan Persebaya.
Suporter kemudian masuk lapangan usai laga sehingga aparat melakukan pengamanan mengerahkan empat unit barakuda untuk ofisial dan pemain Persebaya. Dan untuk mencegah semakin banyak penonton turun ke lapangan, beberapa personel mulai menembakkan gas air mata. Inilah yang membuat para penonton terutama yang berada di tribun panik kemudian berusaha meninggalkan arena.â€Â
Bising televisi malam itu masih terngiang di kepala ibu. Mencetak rentetan kata yang memberitakan kejadian mengerikan malam itu. Sepasang matanya diam menatap nanar ke arah pusara tempat buah hatinya diistirahatkan. Sepoi angin sore itu menerbangkan helai kain jilbab yang ibu kenakan, seakan menyambut ibu yang kembali ke tempat ini untuk menyambangi putranya. Pelan-pelan ibu mendudukkan dirinya di sebelah pusara tersebut. Tangannya bergerak mencabuti beberapa rumput liar yang tumbuh di sekitar sana. Menyiram tanah pusara itu dengan air yang sengaja ia bawa dari rumah, juga tak lupa mengambil segenggam bunga dari plastik berwarna putih yang sudah ia beli di tengah perjalanan sebelum sampai di tempat ini.
“Le… Ibu datang lagi ke sini, jengukin kamu,†lirih suara ibu. Suaranya terdengar serak karena terlalu banyak menangis. Rasa penyesalan membuncah di hatinya.
“Di sana baik-baik ya, Le. Jagain ibu dari sana. Maaf waktu itu ibu ndak bisa larang kamu pergi ke sana.â€Â
Hancur sudah pertahanan ibu untuk tidak menangis. Jatuh air matanya beriringan dengan derai hujan yang mulai mengguyur seluruh kota. Kelabu nampak merangkul angkasa. Mengganti indahnya luas biru yang membentang di atas sana. Menemani duka yang sampai saat ini masih ibu rasakan perihnya. Namun, selain ikhlas, ibu bisa apa? Nasi sudah menjadi bubur. Buah hatinya, jagoannya, kini sudah kembali didekap bumi dengan eratnya.
***
Bulir keringat membasahi rupanya. Sementara kakinya dengan lincah mengoper bola ke arah teman satu timnya. Punggung tangannya bergerak mengusap keringat yang jatuh di pelipisnya.
Satu, dua, tiga, dan … gol!
Peluit dibunyikan oleh wasit. Menandakan bahwa pertandingan sore itu sudah selesai, bersamaan dengan skor yang bertambah membuat timnya menang unggul dua poin dengan tim lawan. Satya, laki-laki yang mengenakan nomor punggung 16 menyunggingkan senyumnya. Berseru heboh berlari ke arah di mana timnya berkumpul untuk merayakan kemenangan.
“Cuy, kita menang, cuy! Menang!â€Â
Tim yang berjumlah total 13 orang itu bersorak gembira. Lalu satu persatu dari mereka mulai pamit pulang karena sang surya sudah semakin tenggelam di ufuk barat. Tim Satya meninggalkan lapangan sekolah dengan perasaan berbunga-bunga.
Tak jauh berbeda dengan Satya yang juga mulai melangkahkan kakinya menjauhi area lapangan sekolah miliknya. Sengaja berjalan kaki tanpa membawa kendaraan karena rumahnya hanya berjarak kurang lebih 300 meter dari sekolah.
“Assalamu’alaikum… Bu, Satya pulang!â€Â
Satya berseru begitu sampai di rumah miliknya. Tangan kanannya membuka pintu rumahnya dengan kunci yang sudah ia bawa, lalu melepas tautan tali yang mengikat sepatu sekolahnya. Menata sepatunya rapi di rak sepatu yang ada di sebelah pintu rumah. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri mencari keberadaan ibunya yang tak kunjung menjawab salam. Sampai akhirnya gerakannya terhenti ketika melihat ibu tengah melipat mukena putih miliknya.
“Lho, sudah pulang? Ibu ndak dengar kamu buka gerbang soalnya. Gimana sekolahnya, Le?â€Â
Ibu tersenyum. Sementara Satya meraih tangan sang ibu untuk ia kecup punggung tangannya.
“Alhamdulillah, lancar kok, Bu. Tahu ndak, tadi pas main sepak bola sama temen-temen, tim Satya menang, lho!â€Â
Senyum lebar terbit di bibir Satya. Dengan semangat ia menceritakan semua kejadian yang ia lewati hari ini kepada ibu. Sementara ibu hanya tersenyum sambil beberapa kali menanggapi celotehan Satya.
“Oh iya, Bu, lusa nanti, Satya diajak temen-temen Satya nonton bola di Stadion Kanjuruhan. Boleh, ‘kan?†Satya menatap tepat di kedua mata ibunya. Sementara ibunya tampak menimang keputusannya, “Hmm… ke sana sama siapa aja, Le?†tanya ibu.
“Banyak, kira-kira ada lima orang lah, boleh ‘kan?†pinta Satya.
“Haduh, kamu ini kebiasaan izinnya ndadak. Kalau misalnya ndak ke sana dulu gimana, Le? ‘Kan kalau nonton bisa kapan-kapan lagi,†jawab ibu.
Kernyitan terbit di dahi Satya. “Bu, Satya udah bilang mau ikut sama yang lain, kalau tiba-tiba bilang ndak bisa ikut kan ndak enak juga,†ujarnya.
“Tapi ‘kan bisa lain kali,Lle. Buat yang kali ini nonton dari rumah aja, ya? Biasanya juga gitu, toh,†tawar ibu. Senyum lebar yang semula terbit di belah ranum Satya hilang, diganti dengan ekspresi datar. Helaan napas berat keluar dari bibirnya.
“Satya ndak pernah lihat ke stadion lho, Bu. Ini pertama kalinya Satya mau ke sana. Satya mau lihat pertandingan secara langsung, dari dulu Satya cuma lihat dari tv. Sekali-kali Bu.â€Â
Satya masih bersikukuh meminta izin kepada ibunya. Meyakinkan bahwa Satya hanya pergi ke sana tanpa melipir ke mana-mana.
“Le…†suara ibu memelan, mulai menyerah dengan perdebatannya dengan Satya. Sementara Satya sama sekali tak menyerah, “Boleh ya, Bu? Satya janji ini yang terakhir. Setelah itu Satya ndak bakal ke sana lagi,†ujar Satya.
Mendengar permintaan anaknya, akhirnya ibu menyerah. Ibu menganggukkan kepalanya. Sejujurnya, entah kenapa ibu sama sekali tidak yakin dengan permintaan Satya kali ini. Ibu ingin menolak, tapi di lain sisi ibu juga tidak tega. Satya itu suka sekali dengan bola. Biasanya, Satya lebih suka menonton pertandingan bola yang tengah berlangsung dari rumah lewat televisi yang ada di ruang tengah. Baru kali ini Satya meminta izin kepada ibu untuk menonton bola secara langsung di Stadion Kanjuruhan.
Tak ingin berlarut dengan topik pembicaraan kali ini, ibu berkata, “Ya wis, ndang mandi, gih. Abis ini persiapan ke masjid, ya, salat Magrib di sana.†Satya mengangguk antusias. Kemudian berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Detik menjadi menit, menit berubah menjadi jam, lalu jam berganti dengan hari. Tak terasa, hari yang Satya tunggu tiba. Ia tengah sibuk menyiapkan barang-barang yang perlu ia bawa. Menyiapkan kaos dengan logo Arema di belakangnya. Tak lupa membawa syal dominan warna biru dengan gambar singa di kedua sisinya dihias kalimat “singo edan†di tengahnya. Setelah memastikan semua barang yang perlu ia bawa lengkap, ia berjalan meninggalkan kamarnya. Menemui sang ibu yang sedang memasak di dapur.
“Bu, Satya pamit ya, udah ditunggu temen,†ujar Satya. Ia berjalan mendekat ke arah sang ibu untuk berpamitan.
“Beneran berangkat, Le? Ndak kapan-kapan aja?â€Â
Rupanya ibu masih merasa khawatir. Entah kenapa, ibu merasa khawatir mendengar Satya akan pergi ke Stadion Kanjuruhan untuk menonton pertandingan sepak bola antara Arema FC dengan Persebaya hari itu. Satya menggeleng, “Jadi, Bu. Satya berangkat hari ini. Tenang aja, Satya enggak bakal kenapa-kenapa.â€Â
Akhirnya ibu mengizinkan Satya untuk pergi. Setelah berpamitan, Satya berangkat menggunakan motornya untuk menjemput temannya terlebih dahulu sebelum berangkat bersama.
***
Studion Kanjuruhan hari itu penuh. Teriakan orang-orang menyemangati tim dukungan mereka terasa memekakkan telinga. Begitu juga dengan Satya dan teman-temannya yang nampak menikmati bagaimana pertandingan itu berlangsung. Mereka bernyanyi dan meneriakkan yel-yel untuk menambah keseruan di malam itu. Namun, keseruan di Stadion Kanjuruhan tidak berlangsung lama. Setelah pertandingan selesai dengan perolehan skor 3-2 untuk kemenangan Persebaya, kericuhan mulai terjadi di sana. Di mana dengan tidak tertibnya beberapa suporter turun ke lapangan. Keadaan di sana semakin ricuh kala aparat keamanan mulai menembakkan gas air mata ke arah penonton lainnya untuk mencegah semakin banyak penonton turun ke lapangan.
Satya panik, dirinya terpisah dengan teman-temannya. Tubuhnya ia bawa berlari ke arah pintu keluar. Namun kenyataannya tidak semudah yang ia bayangkan. Tubuhnya beberapa kali terjatuh karena dorongan dari orang lain yang sama-sama panik ingin keluar. Stadion yang semula penuh dengan nyanyian dan yel-yel maupun sorakan berubah penuh dengan tangisan maupun teriakan.
“Bu, maaf, Satya enggak bisa pulang ke rumah.â€Â
Ucapannya terbata-bata. Bersamaan dengan pasokan oksigen yang semakin menipis. Embusan napasnya semakin terputus-putus. Pandangannya menggelap. Teriakan masih terdengar di mana-mana. Pada akhirnya, Satya memejamkan matanya. Sakit menguasai tubuhnya. Hingga akhirnya ia sama sekali tak ingat apa-apa. Ia berhasil pulang, namun tidak lagi ada ibu yang menyambut kepulangannya dengan senyum lebar di ambang pintu. Satya berpulang, sebenar-benarnya pulang. (Kalila Rabbani/9E)