
Cerpen: Perpustakaan Tersembunyi
Suatu hari ada seorang mahasiswi berumur 21 tahun bernama Michelia. Ia sangat tertarik untuk membaca buku apapun. Novel, cerpen, puisi, nonfiksi. Semua dibabat habis olehnya. Satu hari, saat Michelia berjalan di sekitar jalan Nana Fushigi, ia menemukan sebuah perpustakaan kecil di pinggir jalan. Michelia memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat buku yang ada di perpustakaan tersebut. Perpustakaan itu terlihat kuno karena terdapat barang antik yang terpajang di sana dan dindingnya terbuat dari kayu. Ruangan perpustakaan itu tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk beberapa orang membaca di tempat itu.
Setelah melihat-lihat buku yang ada di perpustakaan, Michelia menemukan satu buku yang menarik perhatiannya. Michelia kemudian berjalan ke tempat peminjaman buku yang di jaga oleh seorang kakek tua. Kakek tua itu terlihat seperti sudah berumur 85 tahun. Wajahnya keriput dan seluruh rambutnya sudah berwarna putih. Nampaknya kakek itu adalah orang yang sangat lembut. Michelia kemudian menghampiri kakek tua itu.
“Permisi, Kek. Bolehkah saya meminjam buku ini?” tanya Michelia.
“Boleh, Nak. Tetapi, kau perlu berhati-hati,” jawab kakek dengan raut wajah yang tampak khawatir.
Michelia pun tampak kebingungan mendengar kakek yang memperingatinya untuk berhati-hati.
“Mengapa harus berhati-hati, Kek?”
Kakek hanya terdiam sambil menatap ke arah bawah. Michelia menjadi semakin bingung melihatnya. Ia pun memutuskan untuk pamit pulang.
“Kalau begitu, saya pamit pulang dulu, Kek. Saya akan mengembalikan buku ini saat saya sudah selesai membaca,” ucap Michelia.
Kakek mengangkat kepalanya dan kembali menatap Michelia. Lalu, Kakek itu berkata, “Baik, hati-hati di jalan ya, Nak.”
Michelia berjalan keluar dari perpustakaan tersebut dan pulang ke apartemennya.
Saat malam tiba, Michelia membaca buku yang ia pinjam di perpustakaan kuno itu. Ia membaca di ruang tamu sambil duduk di sofa. Beberapa saat kemudian, Michelia merasa sangat mengantuk dan memutuskan untuk tidur di kamarnya. Ia menaruh bukunya di atas sofa. Sementara ia menuju kamar untuk segera tidur.
Beberapa saat kemudian, Michelia terbangun di sebuah perpustakaan yang sangat besar dengan pencahayaan minim karena ada beberapa lampu berwarna kuning di sekitarnya. Ia merasa bingung dan cukup khawatir. Michelia pun melihat sekelilingnya, lalu ia melihat buku yang dipinjamnya kemarin tepat berada di sebelah ia terbangun. Michelia pun berdiri dan mengambil buku itu lalu berjalan di sekitar perpustakaan tersebut. Ia melihat begitu banyak buku yang sepertinya sudah usang dan tidak pernah disentuh orang. Di perpusatakaan tersebut juga banyak rak buku yang tinggi.
Michelia memutuskan untuk membuka buku yang dipinjamnya kemarin. Ia terkejut karena semua halaman bukunya ternyata kosong, tidak ada satu pun kata yang tertulis di buku itu. Tetapi saat Michelia membuka halaman terakhir, ia melihat ada tulisan berwarna merah yang bertuliskan
Kembalikan buku itu ke tempat semula!
Michelia sangat terkejut. Di saat yang bersamaan muncul pula rasa takut. Ia kemudian berlari mencari tempat semula buku tersebut. Tetapi usahanya sia-sia saja. Ia memutuskan untuk menyerah dan duduk di lantai sambil menunduk.
“Apa aku akan terjebak di sini selamanya?” ucap Michelia dengan perasaan sedih dan putus asa.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Michelia pun terkejut melihat wanita yang berwujud zombie berada di sebelahnya. Wanita itu memang zombie, tetapi bisa berbicara. Wanita zombie itu terlihat memakai gaun merah, berambut panjang, dan memakai aksesoris bunga di sekitar kepalanya. Michelia terkejut bukan main, sehingga ia bergerak mundur untuk menghindarinya. Wanita zombie itu menangkap tangannya dan berusaha menenangkan Michelia.
“Tenanglah nak, aku tidak akan memakanmu,” ucap wanita zombie itu dengan nada lembut.
Michelia menjadi sedikit tenang karena mengetahui bahwa wanita zombie itu tidak agresif. Lalu, Michelia bertanya kepada wanita zombie itu.
“Bagaimana caranya untuk keluar dari tempat ini? Aku sudah mencari jalan keluar tetapi tidak ada satupun petunjuk yang mengarahkan aku ke sana!” tanya Michelia dengan perasaan panik. “Aku tidak bisa terjebak disini selamanya!!”
“Tenanglah. Jangan panik. Pasti ada jalan keluar, kau jangan gampang berputus asa! Kau perlu terus berusaha!” ucap wanita itu dengan nada tegas.
“Apakah ada sesuatu yang tertulis di buku yang kamu pegang?” tanyanya kemudian.
“Ya, di sini tertulis Kembalikan buku itu ke tempat semula!” Masalahnya, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan “tempat semula,” jawab Michelia.
Wanita itu mengeluarkan sebuah peta dari kantongnya, lalu menjelaskan kegunaannya. Setelah menjelaskan kegunaannya, wanita itu kemudian menjelaskan cara bagaimana Michelia agar dapat keluar dari perpustakaan ini.
“Tujuanmu adalah ke lantai terbawah, yaitu lantai satu. Kau harus mencari lift yang akan membawamu ke lantai paling bawah,” jelas wanita zombie itu. Wanita itu kemudian memberikan peta miliknya kepada Michelia.
“Kau perlu mencari lemari yang tidak ada buku satupun. Letakkan buku ini di lemari itu,” lanjutnya.
Michelia pun paham dengan apa yang dijelaskan oleh wanita zombie itu, kemudian ia berterima kasih dan mulai menjelajah sekitar perpustakaan tersebut. Tiba-tiba Michelia menemukan monster yang bertubuh besar dan bertaring. Monster itu mulai mengejar Michelia dan siap memangsanya. Michelia terkejut bukan main ketika monster itu mulai mengejarnya. Michelia pun berlari sekuat tenaga untuk menghindari monster itu. Ia terus berlari tanpa tujuan yang jelas.
Tiba-tiba ia menemukan lift yang menuju ke lantai tiga. Dengan cepat ia memasuki lift itu dan segera menutup pintu lift. Kemudian lift tersebut bergerak turun ke bawah. Tiba-tiba ia terkejut karena mendengar suara yang keras di atas lift seperti benda besar yang terjatuh. Lift tersebut kemudian macet. Tidak bergerak sama sekali. Michelia sangat ketakutan dan panik. Tidak lama kemudian, tiba-tiba lift tersebut jatuh ke lantai satu, karena saat lift itu bergerak turun, lift itu di timpa oleh monster bertubuh besar yang ditemui oleh Michelia sebelumnya.
Anehnya, Michelia masih selamat dari kecelakaan lift tadi. Akhirnya, pintu lift terbuka saat sudah berada di lantai satu dan dengan perlahan-lahan ia keluar dari lift mendapati monster itu sudah tak sadarkan diri. Michelia kemudian menjelajahi area lantai satu untuk mencari lemari yang dimaksud wanita zombie tadi.
Di tengah penjelajahannya, Michelia bertemu dengan hantu wanita yang tinggi, berambut sangat panjang, dan memakai gaun berwarna putih. Seluruh warna kulit wanita itu berwana putih dan pucat.
“KEMARILAH KAU!! AKAN KU TANGKAP KAU!!!” teriak hantu wanita itu sambil bergerak mendekati Michelia.
Michelia terkejut bukan main. Ia segera berlari sekuat tenaga untuk menghindari hantu wanita itu yang sedang mengejarnya. Saat berlari, ia menemukan sebuah pintu menuju ke suatu ruangan. Tanpa berikir panjang, ia langsung memasuki ruangan itu lalu bersembunyi. Isi ruangan itu seperti perpustakaan biasa, tetapi ada lemari kosong yang bersebelahan dengan pintu. Michelia mencoba menaruh buku yang dibawa ke lemari tersebut. Lalu, pintu yang ada di sebelah lemari tiba-tiba terbuka. Ia dapat melihat cahaya putih yang terang di pintu itu.
Saat ingin memasuki pintu, tiba-tiba hantu wanita itu menemukan Michelia.
“KEMARILAH KAU!!!”
Hantu wanita itu kemudian mengejarnya. Dengan cepat, Michelia segera memasuki pintu.
Seketika Michelia terbangun dan menyadari ternyata dirinya sedang berbaring di atas kasur. Ia pun bergegas pergi ke ruang tamu. Kemudian ia melihat buku yang dipinjamnya berada di atas sofa. Ia duduk di sofa dan segera melihat isi buku tersebut. Ternyata, tulisan-tulisan yang ada di buku muncul kembali. Michelia menjadi lega dan membaca kembali buku itu.
Rupanya hanya mimpi buruk. Keesokan hari, Michelia pun melanjutkan membaca buku itu hampir setiap saat. Saat di kampus, di kafe, dan di rumah.
Satu hari Michelia berhasil membaca buku itu sampai halaman terakhir. Setelah selesai membaca, ia menyadari bahwa alur cerita yang ada di buku tersebut sudah pernah dialami oleh dirinya. Ia terkejut bukan main dan langsung bersiap-siap untuk berangkat dan pergi ke perpustakaan itu.
Sesampainya di sana Michelia segera menemui kakek tua yang ada di tempat peminjaman buku tersebut. Michelia kemudian menyerahkan buku itu kepada kakek itu.
“Ini bukunya, Kek. Saya mau mengembalikan buku ini,” ucap Michelia.
Kakek menatap Michelia dengan cemas, “Kamu, kamu baik-baik saja kan, Nak?” tanya kakek dengan rasa khawatir.
“Aku baik-baik saja, Kek. Sekarang aku mengerti mengapa Kakek memperingatiku untuk berhati-hati,” jawab Michelia.
“Sukurlah kalau kau mengerti,” ujar kakek sambil mengambil buku itu.
Michelia pun memutuskan untuk pamit pulang kepada kakek. “Ya sudah kalau begitu. Terimakasih ya, Kek. Saya pamit pulang dulu.”
Baiklah, hati-hati di jalan, Nak.”
Michelia pun berjalan keluar perpustakaan untuk pulang ke apartemennya. Selama perjalanan pulang, ia merenung memikirkan pengalaman anehnya karena buku itu. Ia pun sampai pada kesimpulan bahwa saat menghadapi masalah, dia harus berusaha untuk tidak panik agar masalah tersebut cepat terselesaikan. (Naila Andani/7D)