Pembelajaran Siswa Aktif, Pembelajaran Guru (Tidak) Aktif
Sebuah pertanyaan saya dapatkan melalui salah satu platform media sosial; mengapa beberapa guru meminta siswa untuk selalu aktif, tetapi guru itu sendiri tidak mendorong siswanya untuk menjadi aktif bahkan malah membuat siswa itu tertekan? Dalam tulisan ini saya akan coba memberikan penjelasan dari sudut pandang saya.
Pertama-tama, mengapa siswa harus aktif?
Tokoh utama dalam proses pembelajaran itu memang siswa. Pembelajaran dilakukan demi kepentingan perkembangan siswa. Jadi, memang sukses tidaknya pembelajaran itu bisa diprediksi dengan melihat keaktifan siswa. Semakin aktif siswa, semakin banyak yang dia pelajari.
Hal yang saya maksud aktif di sini bukan berarti tentang daftar hadir siswa, banyaknya ekstrakurikuler yang diikuti, atau sekadar seberapa sering siswa mengangkat tangan di dalam kelas. Yang saya maksud aktif adalah siswa bisa menentukan target belajar sendiri, mencari sumber belajar sendiri di luar kelas, dan ikut mengevaluasi hasil belajar sendiri. Dengan begitu, siswa memang dilatih untuk bisa mandiri dan terus belajar.
Lalu apa yang guru harus lakukan?
Guru hanya perlu teriak meminta kepada siswanya, “Kalian itu sekolah harus aktif!â€Â
Bercanda! Tentu saja tidak seperti itu.
Pembelajaran siswa aktif bukan berarti gurunya tidak aktif.
Guru bisa meminta siswa untuk membuat target pembelajaran mereka masing-masing di awal pelajaran; bisa di awal semester atau di awal setiap bab, atau awal bulan, bergantung kebijakan dan preferensi gurunya. Target belajar itu bukan nilai! Target belajar itu seperti siswa yang menyatakan, “Setelah belajar teks naratif ini saya harap saya bisa menceritakan kisah-kisah daerah di Indonesia dalam bahasa Inggris buat saya unggah sebagai konten di kanal YouTube saya.â€Â
Bagaimana kalau target belajar siswa beda-beda? Biarkan saja. Toh itu target belajar mereka. Tokoh utama pembelajaran itu mereka.
Kemudian guru bisa membebaskan siswa untuk mencari materi belajar di luar kelas. Buat apa 2020 guru mencekoki siswa dengan bahan ajar? Bayangkan guru menghabiskan beberapa pertemuan hanya untuk mendongeng sejarah kolonialisme Belanda di depan kelas. Padahal siswa punya google sendiri-sendiri di rumah. Lebih baik siswa diminta mencari materi dulu sendiri-sendiri, baru kemudian di kelas buat diskusi materi yang sudah mereka kumpulkan.
Lalu untuk evaluasi, guru bisa turut melibatkan siswa untuk mereviu hasil belajar mereka. Paling tidak, guru bisa meminta siswa untuk menuliskan target belajar yang sudah mereka capai, bagian yang belum tercapai, dan cara mereka ke depannya untuk memperbaikinya.
Apakah semua guru sudah melakukannya dengan benar?
Yah, tidak bisa dipungkiri kalau budaya menjadi hambatan untuk pembelajaran yang berpusat pada siswa. Banyak dari kita yang masih menganggap kedudukan guru mutlak lebih tinggi daripada siswa. Tahu, kan? Seperti kita menganggap orang tua selalu lebih benar daripada anak-anaknya. Masih banyak dari kita yang menganggap guru itu sumber belajar; siswa belajar dari guru. Kan sebenarnya tidak seperti itu? Siswa bisa belajar dari mana saja. Guru di sekolah berperan membantu siswa dalam belajar.
Selain itu, kebanyakan guru-guru kita juga belum pernah memperoleh pembelajaran yang berpusat pada siswa ketika zaman mereka sekolah dulu. Alhasil ketika diminta melaksanakan pembelajaran siswa aktif, mereka kebingungan harus berbuat apa di dalam kelas. Akhirnya, guru-guru yang sudah merasa lelah belajar hal-hal baru akan memekik, meminta kepada siswanya, “Kalian itu sekolah harus aktif!†(A. Wiqoyil Islama)