
Cerpen: Misteri Kamar Hotel Nomor 555
Raka akan pergi ke luar kota karena ibunya akan bertugas ke Kota Batu selama 2 minggu. Raka yang tinggal di Jakarta tidak mungkin ditinggal ibunya karena ia masih berumur 10 tahun dan tidak ada yang menjaganya di rumah. Sementara di Batu, ada teman ibunya yang menjadi karyawan hotel yang akan menjaganya.
Raka sebenarnya sangat senang karena bisa ke Kota Batu yang terkenal dengan udaranya yang sejuk. Untungnya, saat itu adalah masa libur akhir semester. Namun, selama di sana Raka tidak mungkin diajak jalan-jalan ke tempat wisata karena ibunya pasti sibuk. Ia akan bosan hanya berdiam diri di hotel saja. Mungkin, ibunya hanya akan mengajaknya membeli oleh-oleh.
Raka berangkat ke kota Batu meggunakan pesawat dengan ibunya. Raka hanya membawa tas sekolahnya untuk mengerjakan tugas liburan dari gurunya. Sementara ibunya membawa 2 koper. Koper besar untuk pakaian dan koper kecil untuk laptop, kertas, buku-buku, dan peralatan kerjanya. Berangkat pukul 3 sore, Raka dan ibunya sampai di Kota Batu pukul 5 sore. Ibunya lalu memesan taksi online untuk menuju hotel.
Raka baru sampai di hotel jam 7 malam karena jalanan macet. Raka dan ibunya langsung disambut Tante Lastri, teman ibu yang menjadi karyawan di hotel itu. Tante Lastri langsung mengajak Raka dan ibunya ke kamar agar bisa segera beristirahat. Hotel itu berlantai 15 dan mempunyai 555 kamar. Hotel yang unik. Terlihat agak kuno, tetapi bangunannya masih kokoh.
Saat itu hotel tengah ramai dan hanya tersisa 1 kamar, yaitu kamar nomor 555 yang terletak di lantai 15. Saat pintu kamar dibuka, Raka langsung cepat-cepat menaruh tasnya dan langsung melompat tidur di kasur. Ibunya dan Tante Lastri tertawa pelan.
“Capek ya habis dari Jakarta ke sini?” tanya Tante Lastri. Ia pun lalu memberikan kunci kamar dan berpamitan untuk bersiap pulang kerja karena sudah malam. Sementara Raka sudah tiduran di kasur, Ibu menata koper sambil menonton tv.
Beberapa menit kemudian, ibu membangunkan Raka, “Ayo bangun makan malam dulu.”
Raka dengan malas bangun dan mencuci mukanya. Di hotel itu, pengunjung hanya perlu memilih makanan dari hp, dan makanan akan diantar ke kamar. Raka dan ibunya makan malam dengan rawon dan ditemani wedang ronde. Makanan dan minuman itu mampu menghangatkan badan karena udara di Kota Batu saat malam apalagi saat bulan Desember sangat dingin.
Setelah makan, ibu lalu sibuk dengan hpnya untuk berdiskusi mempersiapkan kunjungan ke beberapa desa besok. Raka tidak kuat lagi menahan rasa kantuk. Ia lalu segera gosok gigi dan tidur. Ibu baru tidur jam 10 malam.
Karena harus berangkat pagi, ibu sudah bangun dari pukul 4 pagi. Ibu bersiap-siap berangkat kerja. Tak lupa juga membawa tas berukuran cukup besar. Sementara itu Raka masih belum bangun.
“Raka, ayo bangun dulu.”
Raka membuka matanya perlahan. Susah baginya untuk membuka mata.”Raka, ibu setelah ini akan pergi bekerja,” kata ibu. “Ayo segera sarapan.”
Raka lalu mencuci muka dan melanjutkan menyantap sarapan dengan pecel yang tadi sudah dipesan ibu. “Raka nanti ada Tante Lastri disini selama ibu pergi, dan mungkin ada anaknya juga. Namanya Devan, sepertinya dia seumuran kamu,” kata ibu lagi. Raka pun senang karena nanti bisa bermain dengan anak yang bernama Devan itu.
Baru beberapa saat setelah ibu selesai berbicara, terdengar suara ketukan pintu. Ibu lalu membuka pintu. Ternyata itu Tante Lastri dan anaknya, Devan. Ibu lalu mempersilahkan masuk.
“Nah, ibu pergi dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa bisa ke Tante Lastri. Nanti juga bisa main sama Devan.” Ibu pun berpamitan.
“Main sama Devan dulu ya, tante mau bersih bersih ke kamar-kamar sebelah,” ujar Tante Lastri.
Usai berkenalan, Raka dan Devan duduk santai di kursi sambil mengobrol.
“Kamu sangat beruntung tidur di kamar ini,” kata Devan.
“Kenapa memangnya?”
Devan lalu bercerita.
“Konon, dulu di kamar ini ada pengunjung yang hilang secara tiba-tiba. Pada saat sore menjelang malam, ibuku mengantar makanan ke kamar ini. Saat ibuku mengantar makanan, pengunjung itu masih ada. Tetapi, besoknya saat salah 1 karyawan mengetuk pintu kamar ini untuk bersih-bersih, tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya pintu dibuka dengan kunci cadangan. Ternyata di dalamnya tidak ada orang. Kasur di situ berantakan, selimut yang besar nyaris jatuh, bantal dan guling berjatuhan ke lantai semuanya. Tetapi barang-barang pengunjung itu masih ada.”
Raka menyimak cerita itu baik-baik.
“Konon katanya saat tidur, pengunjung itu bermimpi tentang keinginannya pergi ke dimensi Alpha. Tiba-tiba ada lubang hitam yang menyedotnya ke dimensi lain. Lubang hitam itu hanya menyedot si penghuni kamar ini. Dia kaget tiba-tiba ada di dimensi yang ingin ia datangi, yaitu dimensi Alpha. Pengunjung itu baru ditemukan setelah beberapa tahun secara mengagetkan di luar negeri. Kata pengunjung itu, di dimensi Alpha ia harus patuh terhadap penguasa di sana agar dipulangkan. Pengunjung itu sangat beruntung karena diperbolehkan pulang. Jadi, apapun permintaan yang dipikirkan, akan terkabul baik itu baik ataupun buruk.”
“Tapi kenapa aku tidak bermimpi apa apa?” tanya Raka dengan alis berkerut.
“Memang tidak setiap pengunjung yang tidur di kamar ini permintaannya terkabul,” jelas Devan.
“Tapi, sebaiknya saat akan tidur jangan pikirkan permintaan yang buruk. Jika kamu memikirkan permintaan baik, permintaanmu terwujud dan kamu bisa kembali lagi, tapi jika memikirkan permintaan buruk, permintaan itu akan terwujud dan tidak bisa kembali lagi,” kata Devan lagi.
Raka sebenarnya tidak percaya, tetapi karena yang bercerita adalah Devan, anak dari Tante Lastri yang bekerja di hotel ini, ia pun percaya.
Setelah bercerita Devan mengajak Raka bermain-main di lorong kamar hotel. Saat itu sudah banyak pengunjung yang pulang. Jadi mereka bisa bebas bermain. Siangnya mereka makan nasi goreng spesial yang ada di hotel ini. Setelah itu mereka beristirahat. Sorenya mereka lanjutkan dengan berenang.
Raka tidak bosan karena ada Devan yang mengajaknya bermain di hotel seharian. Ibu Raka baru pulang jam setengah 5 sore. Devan dan ibunya pun pamit pulang. Ibu beristirahat sebentar, lalu makan malam dengan soto. Setelah itu, Raka mengerjakan PR sebelum bermain gim.
Raka sudah mencapai level 502 karena sudah bermain gim itu sejak beberapa bulan yang lalu. Ibunya sibuk dengan laptopnya. Raka baru tidur pukul 9 malam setelah menyelesaikan level 555. Ibunya baru tidur setengah jam setelahnya. Raka lupa bahwa ia tidak boleh berpikir buruk. Tetapi, ia memikirkan keinginanya untuk memainkan gim petualangan luar angkasa di dunia nyata, yang tentu berbahaya.
Saat tidur Raka bermimpi tentang keinginanya, yaitu masuk ke dunia gim. Tiba-tiba ada lubang hitam menyedot Raka. Namun, lubang hitam itu hanya menyedotnya saja, tidak dengan ibunya. Anehnya, ibunya tidak tahu ataupun mendengar teriakan Raka.
Alhasil, Raka tersedot ke dimensi lain. Saat membuka mata, Raka kaget. Ia bingung.
“Ada dimana aku ini?” tanyanya dalam hati.
Ternyata ia berada di luar angkasa dan tidur di suatu asteroid yang cukup besar. Memang sebelum tidur Raka bermain gim petualangan luar angkasa, dan ia sangat ingin memainkannya langsung secara nyata karena sangat seru. Di game itu, pemain ditugaskan untuk mencegah asteroid menabrak bumi.
“Oh iya, aku tadi baru saja menyelesaikan level 555,” ingat Raka dalam hati.
Belum selesai Raka berpikir kenapa ia diluar angkasa, tiba-tiba asteroid tempat Raka tidur mendekati bumi. Tak lama asteroid itu melewati atmosfer bumi. Asteroid yang ukuranya kurang lebih seperti rumah kecil itu bergoyang-goyang. Raka berpegangan pada kaki-kaki kasur. Asteroid itu pun jatuh ke tengah-tengah samudera dan Raka tenggelam. Tidak ada satupun kapal yang lewat karena saat itu sedang terjadi badai. Pun dan tidak ada yang mendengar karena suara hujan yang sangat deras. Ibunya yang bangun tidak melihat Raka lagi selamanya. Devan sangat sedih, cerita yang ia ceritakan kemarin ternyata benar terjadi. (Raditya Asna Nirwasita/9A)