Cerpen: Mira… Bintang Kamu Tetap Disana
Pagi yang cerah mewarnai hari Senin di SMP Nusantara. Murid-murid terlihat berseragam rapi dan berjalan memasuki gerbang sekolah. Selang beberapa lama, tepatnya jam 7.00 WIB, bel sekolah pun berbunyi menunjukkan waktu pelajaran pertama akan dimulai.
Para siswa dan siswi pun bergegas menuju ke kelas masing-masing. Tiba-tiba ada seorang siswi yang berjalan dengan sangat tergesa-gesa di lorong sekolah. Tas ransel yang kelihatannya cukup penuh dengan buku bergoyang-goyang di pundak dan sebuah handbag terayun-ayun di tangan kanannya. Mukanya kelihatan cemas dan sesekali ia menambah kecepatan langkah kecilnya. Siswi yang tampak asing dengan lingkungan itu terlihat mulai panik dan bingung, sambil bergumam sendiri ia berkata, “Ruang 8A….. hhmmm.†Beberapa kali ia melemparkan pandangannya ke arah pintu yang dilaluinya.
 Akhirnya, “Selamat pagi, maaf, saya terlambat,†ucap siswi itu ketika ia sudah menemukan kelas yang di depan pintunya berplakat Kelas 8A.
“Oh iya, selamat pagi! Kamu Mira Setyaningrum?†tanya seorang guru yang langsung menghampiri siswi tersebut dari dalam ruangan kelas. Ternyata, siswi tersebut adalah Mira Setyaningrum, siswi baru dikelas 8A.
Ibu guru itu menghampiri Mira. Sambil menggandeng tangan Mira yang masih terengah-engah, ia berujar, “Iya, tidak apa-apa Mira. Saya Bu Indah, Wali kelas 8A. Sekarang silakan kamu perkenalkan dirimu kepada teman-teman di kelas 8A ini.â€Â
Suasana kelas yang awalnya hening tiba-tiba mulai ramai seperti pasar. Ada yang serius memperhatikan Mira, ada yang cekikikan sambil ngobrol dan melihat ke arah Mira, ada yang teriak-teriak tidak jelas menunjuk-nunjuk Mira. Mira yang masih mengatur nafasnya setelah melewati lorong mencari kelas ini, bertambah grogi dan gugup.
Bu Indah tiba-tiba setengah berteriak menenangkan kelas yang mulai berisik ini. “Semua bisa diam??â€Â
Dengan nada melengking, ternyata suara Bu Indah bisa membuat suasana kelas menjadi mulai kondusif lagi.
“Iyyaaa buu!!†Serentak jawaban itu keluar dari mulut siswa siswi yang berjumlah 24 anak ini.
“Baik, terima kasih semua. Ini ada anak baru yang akan menjadi teman kalian nantinya. Namanya Mira. Untuk lebih jelasnya, silakan Mira, perkenalkan dirimu!†perintah Bu Indah sambil berdiri di ujung meja guru.
Mira bertambah gugup dan dengan mengangguk kepada Bu Indah, ia berkata, “Selamat pagi semua! Perkenalkan nama saya Mira Setyaningrum. Saya pindahan dari kota Yogyakarta, kalian bisa memanggilku dengan Mira. Salam kenal semuanya!â€Â
Senyum simpul dan wajah bersahabat terlukis di wajah Mira. Padahal, jujur saja, di dalam hatinya ia sangat malu saat ini. Malu, grogi, gugup, rasanya semua bercampur aduk. Kembali suasana kelas riuh rendah dengan beberapa teriakan pertanyaan yang mengarah ke Mira. Suasana itu yang membuat dada Mira sesak. Ia berpikir apa yang harus dilakukannya. Untungnya, kembali suara Bu Indah memecahkan ramainya suara murid-muridnya.
“Sudah, diam semua. Mira kamu silakan duduk.â€Â
Belum sempat Bu Indah menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ada suara teriakan dari sebelah kanan menggema, “Miraaaa, duduk sini sama kami-kami aja! Cepetan!”
Serentak Bu Indah, Mira, dan siswa siswi lainnya menoleh ke arah suara itu. Ternyata itu suaranya Viola. Murid lain yang melihat itu memberikan senyum sinis ke arah Viola. Bu Indah melirik ke arah Mira sambil berkata, “Ya sudah, itu Viola. Kamu bisa duduk di sampingnya, nanti kenalan di tempat duduk aja ya Mira!â€Â
Mira sambil tersenyum tipis dan menenteng handbag yang dia letakkan di lantai tadi mengangguk serta merta berjalan melewati Bu Indah menuju bangku yang ditunjuk Viola.
“Silahkan duduk Mira!â€Â
Dengan senyuman manis Viola berdiri mempersilakan Mira duduk di dekat jendela. Awal yang bagus apa tidak, ya? Muncul kalimat itu dalam pikiran Mira, tetapi ia tetap berusaha tenang.
Kring….. Kring….. Kring……
Kembali suara bel memecahkan suasana belajar murid-murid SMP Nusantara. Bel pertama berbunyi disambut keriuhan suara siswa siswi yang ingin segera istirahat. Ada yang membuka bekal makanannya, ada yang berdesakan di pintu keluar karena mereka ingin segera ke kantin, ada yang adem ayem di mejanya dengan muka yang mengantuk.
Semuanya benar-benar suasana yang seru, batin Mira.
“Mira, kamu gak keluar? Oh ya, kenalkan, ini Rizka yang duduk di belakangmu tadi,†ujar Violet sambil memegang bahu Rizka. Sementara Rizka mengulurkan tangannya ke arah Mira untuk menyalaminya.
Mira bergegas menyambut tangan itu dan bersalaman sambil berkata, “Aku Mira.â€Â
“Kamu ikut yuk, Mira! Nanti aku ajak keliling di sekolah. Anggap aja aku jadi guide-mu di sekolah ini. Aku kenalkan dengan situasi di sekolah kita,†ujar Violet sambil tersenyum.
Mira mengangguk dan mereka bertiga bergegas keluar menuju lapangan. Sepanjang berkeliling sekolah, Mira berkesimpulan ternyata Violet dan Rizka adalah anak yang cukup populer. Di samping mereka cantik juga mereka ramah dan baik ke siswa siswi yang lain.
Hari dan minggu berganti. Mira mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan teman-teman di kelasnya. Tapi, dengan seiring waktu, ada hal ganjil dengan kedekatan antara Mira, Violet, dan Rizka. Mira menemukan beberapa hal di luar dugaan dan ekspektasinya. Ia beberapa kali melihat Violet dan Rizka melakukan pem-bully-an ke siswi yang lain dengan cara yang manis sehingga orang lain tidak sadar jika mereka melakukannya. Beberapa kali pula Mira melihat mereka berdua dengan sengaja melanggar peraturan sekolah. Itupun dilakukan dengan cara yang licik sehingga bukan mereka yang kena sanksi, tetapi siswa atau siswi yang lain.
Hebat sekali mereka, Mira membatin. “Ternyata paras yang cantik dan berkesan baik bisa untuk memanipulasi juga,†gumam Mira ketika ia sedang berjalan sendiri menuju toilet.
Suatu hari, Mira berjalan ke arah laboratorium IPA karena beberapa alat tulisnya tertinggal di sana. Di lorong menuju laboratorium IPA ini memang sepi karena ruangan lab terletak di paling ujung. Awalnya suasana sunyi dan sepi. Ia cuma mendengar derap langkah sepatunya sendiri. Namun, tiba-tiba ada suara yang ia kenal dengan jelas.
“Aku gak mau tau! Tapi kamu harus tuliskan jawabannya, ngerti??â€Â
“Ngerti nggak? Jangan angguk-angguk aja!â€Â
Suara yang juga dikenalnya menimpali suara sebelumnya. Kedua suara ini sangat tidak asing lagi. Tekanan suara itu seperti sedang mengintimidasi seseorang. Mira melambatkan langkahnya sambil mengendap mencari arah suara itu. Dengan rasa penasaran yang amat sangat, Mira akhirnya melihat 3 orang siswi yang sedang berdiri di dekat pintu lab yang dia tuju. Tidak salah lagi tebakannya. Dia mengenal baik 2 siswi itu karena jelas sekali itu Violet dan Rizka.
“Ada apa dengan mereka dan siapa yang mereka marahi?†gumam Mira sambil mempercepat langkahnya menuju teman-temannya itu.
Saking seriusnya, Violet dan Riska tidak menyadari kehadiran Mira di belakang mereka. Tapi mereka akhirnya menangkap lirikan mata anak yang sedang mereka tindas.
“Hei, ada apa Vi, Riz?†tanya Mira yang cukup mengagetkan mereka.
“Oh, ada Mira. Hei Mira, ngapain kamu ke sini?†tanya Violet sambil membalikkan badannya bersamaan dengan Rizka menghadap Mira hingga posisinya sekarang membelakangi anak yang mereka intimidasi.
 “Aku mau ke lab. Mau ngambil alat tulisku ketinggalan. Eh, dia siapa?†kata Mira sambil tangannya menunjuk siswi di belakang Violet dan Rizka.
Dengan gaya sok diakrab-akrabkan, Rizka maju dan merangkul pundak Mira sambil berkata, “Nggak siapa-siapa sih, Mir. Dia anak kelas 8D. Cuma pengen jadi sahabatnya aja, sekalian mau ku ajak belajar bareng. Kan kelas mereka selalu ulangan duluan.â€Â
“Iya, bener Mir,†Violet menimpali omongan Rizka dengan senyum sumringah.
Tetapi jelas Mira tidak mempercayai begitu saja karena yang ia dengar tadi adalah nada dan kalimat intimidasi bukan kalimat bersahabat. Mira menoleh ke siswi itu yang kelihatan sekali dari raut mukanya sedang tertekan. Mira melepaskan rangkulan Rizka dan melangkah ke arah siswi itu seraya menjulurkan tangannya dan berkata, “Saya Mira kelas 8A, kamu siapa?â€Â
Mira memberikan senyuman kepada siswi itu.
“Eeeeh… saya… saya Ranti kelas 8D,†dengan gugup ia menjawab Mira sambil menyambut tangannya.
Violet dan Rizka saling melirik. Violet mendekati Ranti, “Ya sudah Ranti, nanti kita buat jadwal ketemu yaa! Silakan kalau kamu mau ke kelas,†perintah Violet kepada Ranti dengan suara yang ditekan.
Seketika, tanpa disuruh kedua kalinya Ranti berlari menuju lorong ruang kelas dengan tidak menoleh ke mereka bertiga. Ketika Ranti sudah berbelok hilang dari pandangan mereka bertiga, Mira bertanya kepada Violet dan Rizka, “Sepertinya dia tertekan. Ada apa, sih?â€Â
Tanpa menjawab pertanyaan Mira, Violet menggandeng tangan Mira dan membuka pintu lab sambil berkata, “Mau ambil alat tulismu yang ketinggalan kan, Mir? Cepetan ambil, habis itu kita bareng ke kelas.â€Â
Akhirnya Mira mengambil barang miliknya yang tertinggal diruang lab walau di hatinya tetap penasaran. Aku akan cari tahu tentang kejadian ini, gumam Mira di hati.
Beberapa hari berlalu, Mira masih penasaran dengan kejadian di lab itu. Akhirnya ia memberanikan diri mencari anak kelas 8D yang bernama Ranti. Setelah bertanya dan mencari info tentang Ranti, ia menemukan beberapa hal bahwa ternyata Ranti adalah anak yang pendiam di kelasnya tetapi ia adalah bintang kelas dan juara umum di antara seluruh kelas 7 dahulu.
“Wow!†decak Mira kagum. Akhirnya, Mira sudah berada di depan kelas 8D. Ia melemparkan pandangannya ke dalam ruangan. Terlihat di kursi tengah dekat jendela, seorang siswi sedang membaca buku.
“Sip! Itu Ranti,†gumamnya dalam hati. Sambil melangkah masuk ke kelas, Mira mengucapkan salam yang mengagetkan Ranti.
“Hai, eh hai… Kamu… kamu Mira yang ketemu di lab kan?†Setengah terbata-bata Ranti menoleh ke Mira dan berusaha berdiri dari bangku yang didudukinya.
“Iya Ranti. Aku Mira, anak baru yang ketemu di lab beberapa hari lalu itu Kamu lagi ngapain?†Dengan tersenyum Mira menghampiri Ranti yang sudah berdiri sambil memegang mejanya.
“Nggak ngapa-ngapain Mira, cuma lagi baca buku IPS aja,†jawab Ranti.
“Ranti, sebetulnya dari kemaren aku penasaran, pengen nanya. Ada apa sih waktu di lab Itu? Jujur sebetulnya sebelum aku sampai di dekat kalian, aku mendengar sepertinya Violet sedang marah dan bicara keras ke kamu. Ada apa sih Ranti? Nggak apa-apa, cerita aja ke aku.â€Â
Mira bertanya ke Ranti to the point dan pertanyaan itu membuat raut muka Ranti cemas dan ia sempat menoleh ke pintu seolah-olah ia takut ada yang mendengar. “Eeeh… Hhmm… Eh, Mira… nggak ada apa-apa kok,†jawab Ranti kembali terbata-bata.
Seraya memegang pundak Ranti, Mira berkata, “Ranti, aku mendengar sekilas pembicaraan kalian saat itu. Aku cuma pengen kepastian penjelasan dari kamu. Maaf Ranti, kalau ini dibiarkan kamu juga yang akan terus tertindas. Nggak apa-apa, kamu ceritakan padaku biar kita cari solusi bersama. Mungkin aku bisa membantu kamu,†Mira berusaha merayu Ranti dengan nada lembut, untuk meyakinkan Ranti jika ia berada di pihak Ranti.
Ranti terdiam menunduk, “Duduk yuk, Ran!†ajak Mira sambil menarik kursi mempersilakan Ranti duduk. Setelah duduk, Ranti menatap Mira yang juga duduk di hadapannya sekarang.
“Mira, aku sebetulnya takut ceritain semua ini karena mereka mengancamku Mir…,†ujar Ranti sambil menahan tangis.
“Nggak apa-apa, ada aku sekarang. Aku nggak akan membiarkan mereka menyakitimu. Aku nggak peduli mereka anak terpopuler, anak tercantik, atau predikat apapun yang disematkan ke mereka. Aku nggak peduli itu Ran. Ini sebuah kejahatan, harus diungkap biar mereka jera,†ujar Mira sambil menggenggam tangan Ranti dan memancingnya untuk berbicara.
Ranti menghela nafas panjang, seolah ia bingung antara menceritakannya atau tidak. “Baiklah Mir…†Akhirnya Ranti memulai ceritanya setelah Mira menunggu beberapa menit.
***
Mira keluar dari ruang guru BK dan melangkah pasti ke kelasnya. Di dalam pikirannya berkecamuk tentang masalah yang diceritakan Ranti. Tetapi ia memastikan dirinya bahwa ia tidak sendiri. Sekarang ada guru yang mengetahuinya. Mira yakin ini tindakan terbaik karena semua tidak mungkin dibiarkan. Violet dan Rizka harus berhenti melakukan ini.
***
ÂÂ
Pagi ini terasa tidak seperti biasa, perasaan Mira agak sedikit tidak nyaman. Ia juga tidak mengerti ada apa. Namun, ketika ia tiba di tempat duduknya di kelas, ia menemukan sepucuk kertas tertutup. Ketika ia membuka kertas itu ada tulisan yang tidak tersusun rapi.
HEI SI SOK PAHLAWAN, LO ANAK BARU DAN BUKAN SIAPA-SIAPA, GAK USAH JADI SOK PAHLAWAN LO DI SINI, PAHAM??????
“Ancaman…. Ini bentuk ancaman, aku harus bagaimana? Apa aku biarkan saja, ya?†batin Mira berkecamuk.
Dengan tangan sedikit gemetar ia berusaha terlihat tenang ketika Violet dan Rizka datang dan duduk di sampingnya tanpa menunjukkan sesuatu yang lain. Mereka sangat santai. Mira yakin bahwa mereka berdualah dalangnya.
“Gila nih, bermuka dua banget mereka,†gumam Mira pelan.
Ternyata semakin hari semakin banyak saja kejadian yang membuat Mira agak ciut, “Ini pem-bully-an, jelas pem-bully-an,†batin Mira.
Mulai dari surat-surat ancaman, sampah dan kotoran di lokernya, tatapan sinis beberapa siswi kepadanya, dan banyak lagi yang membuat Mira kesal dan muak dengan keadaan ini. Sebetulnya Mira ingin sekali menanyakan ke Violet dan Rizka karena mereka biang kerok semua ini. Karena mereka pasti sudah dipanggil guru BK dan terkena sanksi dari guru ketertiban. Ranti sendiri setiap berpapasan dengan Mira mencoba menghindari dirinya dan seolah tidak mengenalnya.
Mira sekarang benar-benar merasa sendiri dan tersudut. Ia berpikir, apa sanksi yang diberikan guru ketertiban kepada Rizka dan Violet karena sudah menindas Ranti?
“Aaaah, aku nggak pengen tau sanksi bagi mereka, biarin aja. Tapi yang mereka lakukan ke aku cukup buat aku kesal!â€Â
Berkali-kali Mira berbicara sendiri sambil menunggu jemputannya di dekat satpam sekolah. Saat itu sekolah sudah mulai sepi ditambah gerimis yang masih awet dari jam 11 siang tadi. Mira memperhatikan halaman sekolah yang dipenuhi genangan air hujan dan butiran-butiran gerimis yang turun dengan teratur.
“Hai, belum pulang ya? Belum dijemput?†Sebuah sapaan yang membuat Mira terkejut dan menoleh kepada sosok siswi yang duduk di sampingnya.
“Eh, iya belum dijemput,†jawab Mira dengan berusaha melirik siapa siswi ini karena Mira tidak pernah melihat dan mendengar suara ini sebelumnya.
“Kamu kenapa? Kok mukanya kelihatan kusut? Capek atau ada masalah?†lanjut siswi itu sambil tersenyum.
Mira spontan menoleh ke sampingnya dengan muka serius, ia benar-benar tidak nyaman dengan orang yang bertanya dan merasa sok menilai dirinya.
“Nggak ada apa-apa. Oh iya, saya Mira,†ujar Mira untuk mencairkan suasana.
“Kenalkan juga, saya Karen kelas 9,†jawab Karen sambil menyalami Mira.
“Oh…†respon Mira sambil tersenyum simpul.
“Kamu seperti ada masalah, ya? Eh, apa kamu anak kelas 8 yang sedang jadi bahan pem-bully-an temen sekelasmu karena kamu melapor ke guru BK dan ketertiban tentang apa yang mereka lakukan kepada siswa lain?†Dengan tanpa jeda Karen bertanya kepada Mira.
Mira terhenyak di kursinya. Ia kaget setengah mati dan berpikir bagaimana Karen mengetahui semuanya padahal dia anak kelas 9. Tetapi Mira berusaha tenang dan santai karena Karen terlihat ceria. Suara yang sangat friendly saat bertanya kepadanya pun membuat Mira akhirnya rileks.
Tetapi belum sempat Mira menjawab, Karen bertanya lagi, “Kamu dendam Mir? Kamu ingin membalas? Kamu ingin membalas dengan cara yang sama seperti mereka membullymu? Atau kamu ingin lapor kembali ke guru BK?†Karen berbicara seolah tanpa memberikan kesempatan Mira untuk menjawabnya.
Masih dengan wajah cerianya dan tanpa memandangi Mira di sampingnya yang sedang tertegun dengan pertanyaan-pertanyaan Karen, ia kembali berujar, “Kamu bingung Mir? Mau aku kasih saran? Kamu tau nggak Mir, kejahatan nggak perlu kamu balas dengan kejahatan, tapi bersikaplah anggun. Balaslah kejahatan mereka dengan prestasimu, rebut popularitas mereka dengan prestasimu. Kamu nggak perlu menginjak orang lain untuk menjadi teratas dan hebat, tapi usahalah sendiri dengan prestasimu dan tunjukkan di hadapan semua orang kamulah terbaik. Itu lebih elegan Mira! Paham maksudku?†Karen sedikit berteriak dengan kalimat terakhirnya membuat Mira benar-benar terdiam
Ia akhirnya berucap lirih, “Paham Karen. Tapi bagaimana? Aku bukan anak yang punya kelebihan apapun, aku tidak tau kemampuanku, aku nggak mengerti Karen.â€Â
Mira akhirnya terbawa suasana dengan mengeluarkan isi hatinya setelah ia paham apa yang dimaksud Karen. Air matanya tertahan membuat dadanya sesak dan ingin rasanya ia tumpahkan semua uneg-unegnya kepada Karen. Tetapi ia sadar, ia baru mengenal Karen belum juga satu jam, pantaskah ia curhat lebih jauh?
“Tidak,†gumam Mira tiba-tiba.
“Kenapa? Kenapa tidak, Mira? Kamu ragu dengan saranku?†Karen bicara seolah ia mengetahui isi kepala Mira.
Dengan menghela napas yang panjang, Mira baru mencoba menjawab kalimat Karen, tetapi Karen sudah berbicara lagi, “Mira, aku yakin dan percaya 100% kamu mampu. Masa sih kamu yang tau  diri kamu sendiri malah tidak yakin?†Suara Karen seolah sedang membaca teks UUD 1945, serasa menggema di seluruh ruang tunggu jemputan di dekat pos satpam ini.
Mira merasa geli dan jujur rasa groginya hilang. Ia mulai berpikir bahwa ia bisa, “Aku bisa, aku bisa, akuuuu bisaaaaaaaa!!!!!!!â€Â
“Miraaaa, kenapa kamu teriak-teriak? Tuh udah dijemput kakakmu,†tiba-tiba suara Pak Sobri serasa penuh di kuping. Mira kaget setengah mati. Apa?Aku bermimpikah?? Mana Karen, mana anak kelas 9 itu? Mira bertanya di dalam hatinya.
Sambil berdiri mengambil tas dan berjalan ke arah kakaknya yang menunggu, ia menghampiri Pak Sobri dan bertanya, “Pak, tadi liat Karen ke mana nggak? Yang duduk sama aku?â€Â
Dengan pandangan aneh Pak Sobri menjawab, “Karen siapa? Bukannya kamu tadi duduk sendiri? Oalaaah… iya kamu ngelindur, Nak. Tadi kayaknya kamu ketiduran deh.â€Â
Mendengar jawaban Pak Sobri dan disertai gelak tawanya membuat Mira kesal. Tanpa menoleh dan bicara apapun ia melewati Pak Sobri yang masih mesam mesem ke arahnya.
“Bapak nyebelin!†Cuma kalimat itu yang keluar dari mulut Mira. Sepanjang perjalanan pulang ia masih ingat dengan jelas percakapannya dengan Karen dan sepertinya ia ingin diam dan tidak ingin berbagi cerita ini ke siapa pun.
***
Semenjak kejadian itu, pem-bully-an di sekolah masih terus diterimanya. Mira merasakan pem-bully-an itu sudah menjadi rutinitasnya di sekolah. Ia selalu siap dengan kejutan-kejutan bullyannya, lambat laun ia jadi terkesan menikmatinya. Yang sangat mengherankan, Violet dan Rizka yang sekarang sudah pindah duduk jauh di belakangnya menambah tekanan kepada Mira. Tetapi Mira mulai bisa bersikap cuek, ia mulai fokus dengan semua mapel di sekolah dan beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang mulai ia sukai. Ia ingat, setelah bertemu Karen dan mendengar saran Karen, hatinya lebih tenang dan ia lebih percaya diri. Ia pun berjanji di dalam hati akan menunjukkan prestasinya kepada semua orang. Mira berjanji harus menjadi siswi yang berprestasi. “Harus,†ucap Mira di dalam hati.
***
Hari berganti, beberapa minggu dan bulan telah ia lalui di sekolah ini. Hasil ulangan Mira dari hari ke hari semakin bagus. Teman-teman yang dahulu menjauhinya, yang dulu ikut-ikutan membullynya mulai mendekati Mira. Mereka mulai bertanya tentang pelajaran dan ingin satu kelompok belajar dengannya. Intinya semua teman mulai respect kepadanya. Mira merasakan kehadirannya di kelas mulai diperhitungkan. Beberapa lomba akademik yang diikutinya, selalu dapat dia selesaikan dengan baik dan selalu menyabet juara 1. Ternyata hal tersebut efeknya besar sekali. Pembullyan terhadapnya mulai berkurang. Tatapan mata Violet dan Rizka yang dulunya sangat sinis mulai bersahabat. Mira tidak berhenti sampai di situ, ia terus menggali kemampuannya, berpikir dan belajar dengan sangat giat untuk menentukan mapel mana yang paling ia suka karena ia akan fokus di satu bidang itu.
***
Setelah penerimaan rapor semester gasal, Mira ingin berteriak kegirangan karena Mira meraih prestasi yang dulu tidak pernah ia impikan karena merasa tidak mampu. Namun, sekarang namanya disebut sebagai Juara 1 paralel dengan nilai rata-rata tertinggi di antara kelas 8A sampai dengan 8E.
“Ini bukan mimpi, kan? Bukan mimpi seperti aku ketemu Karen, kan?†Mira bertanya pada dirinya sendiri sambil mencubit tangannya ketika ia melangkah ke depan untuk menerima trofi bergilir sebagai peraih Juara 1 paralel di Kelas 8. Hatinya sangat senang dan bersyukur ketika dari atas panggung, Mira melihat seluruh mata menatapnya dengan senyuman. Hari penerimaan rapor ini adalah hari yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
***
Sudah berhentikah pembullyan yang diterima Mira? Kok mejanya selalu ada permen ataupun cokelat?
“Hmm… ada penggemar rahasia, nih.â€Â
Senyum merekah di bibir Mira saat ia duduk di mejanya.
“Hai Mira! Kita masih bersahabat, kan? Ini nih gara-gara dipisahin duduk sama Bu Indah jadinya kita jarang ngobrol, yaa?†Tiba-tiba suara yang dulu sangat dibenci Mira menyapanya dan berada di hadapannya dengan tatapan sangat manis.
“Iya, ya Violet? Kita seperti terpisah jarak waktu ya, Riz?†Mira juga menyapa Rizka yang berdiri di samping Violet dan kalimat itu adalah kalimat yang paling tulus keluar dari mulutnya.
Dengan menunjukan jari kelingking, Violet dan Rizka berkata serempak, “Yuk kita bersahabat lagi tanpa harus dipisahkan jarak bangku dan waktu ya Mira! Ayooo!â€Â
Mereka saling mengaitkan kelingking mereka tanda persahabatan. Mira merasakan suasana yang luar biasa menyenangkan. Tiada pembullyan, tiada saling tindas. Dan sebetulnya Mira bersyukur dengan kejadian pembullyan ini karena ia dapat menjadi lebih baik, menjadi yang terbaik. Ternyata di balik setiap cobaan berat itu jika kita ambil sisi positifnya maka hal positif itulah yang akan mengaliri hati dan diri kita hingga berwujud ke perbuatan kita. Belajar untuk selalu mengambil nilai positif dari setiap permasalahan yang dialami ternyata hasilnya sangat luar biasa.
“Inilah pelajaran hidup bagiku yang sangat hebat. Terima kasih, Karen. Terima kasih sudah datang di mimpiku di pos satpam ini.†Mira bergumam sambil tersenyum memandangi kursi di mana ia sempat tertidur menurut Pak Sobri. Dengan langkah penuh percaya diri, Mira berlari kearah kakak tersayangnya yang selalu setia menjemputnya.
 “Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.” ââ€â‚¬Dee Lestari. (Maheera Raysha Aisyah S/7B)