Mengapa Kita Cenderung Membaca Angka dalam Bahasa Indonesia Walaupun Angka Tersebut Berada dalam Kalimat Berbahasa Inggris?
Pernahkah kalian membaca teks berbahasa Inggris, kemudian di tengah-tengah teks terdapat deretan angka, yang entah bagaimana angkanya kalian akan membacanya dalam bahasa Indonesia? Padahal kalian tahu seluruh teksnya berbahasa Inggris, dan tentu saja angkanya harus dibaca dengan bahasa Inggris. Namun, otak kalian melafalkannya dalam bahasa Indonesia.
Jika saya boleh menebak, kalian yang mengalami fenomena ini pasti lebih sering membaca dalam bahasa Inggris daripada mendengar ujaran lisannya. Benar, kan? Saya menebak demikian karena dengan situasi seperti itu, otak kita lebih terbiasa menerjemahkan simbol-simbol (seperti angka) ke pelafalan bahasa kita sendiri daripada bahasa kedua kita.
Jadi, ada dua sebab kita cenderung melafalkan angka dalam bahasa Indonesia walaupun ada dalam kalimat berbahasa Inggris; (1) karena simbol itu terbacaâ€â€bisa dibaca dan dilafalkanâ€â€dalam bahasa Indonesia, dan (2) kita jarang mendengar susunan angka itu dilafalkan dalam bahasa Inggris.
Silakan kalian coba membaca kalimat berikut ini:
My grandfather was born on 1921
Nah, kan? Ketika membaca kata grandfather kamu melafalkannya grandfather (bahasa Inggris) karena susunan huruf untuk lafal tersebut tidak terdapat dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Makna yang sama dalam bahasa Indonesia disebut “kakek†dan diwakili oleh simbol yang berbeda yaituâ€â€tentu sajaâ€â€tulisan “kakekâ€Â.
Namun, simbol 1921 yang seharusnya dilafalkan nineteen twenty one dapat dilafalkan dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia juga. Walaupun kita tahu 1921 di situ adalah bahasa Inggrisâ€â€karena tertulis di dalam kalimat berbahasa Inggrisâ€â€otak kita mengajukan opsi untuk melafalkannya ke dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, “sembilan belas dua satuâ€Â. Ditambah karena kita tidak terlalu sering mendengar pelafalan susunan angka ini dalam bahasa Inggris, akhirnya otak kita lebih memilih opsi untuk melafalkannya dengan “sembilan belas dua satu†saja. Karena lebih familiar melafalkannya juga tidak memakan banyak tenaga.
Baiklah, kita coba dengan angka yang lebih sering didengar:
(1) I’ve been performing magic since I was 12
(2) Call 911
(3) 50–50, deal?
Bagaimana? Apakah kalian masih membacanya dalam bahasa Indonesia?
Kenapa tidak?
Karena angka-angka pendek itu, 12, 911, dan 50; sudah sering kita dengar pelafalannya dalam bahasa Inggris entah melalui film atau video pendek. Jadi, lebih mudah dilafalkan dan otak kita tidak bekerja terlalu keras.
Secara bawah sadar, otak kita selalu membuat keputusan untuk mengambil tindakan yang lebih mudah. Kita lebih sering mendengar pelafalan deretan angka dalam bahasa Indonesia dan terlatih melafalkan deretan angka dalam bahasa Indonesia. Maka, sekalipun kita tahu cara melafalkannya dalam bahasa Inggris, kita cenderung secara bawah sadar melafalkannya dalam bahasa Inggris. (A. Wiqoyil Islama)