
Luar Biasa! Cerpen Karya Siswa Matsasurba Sabet Juara Pertama
Prestasi membanggakan kembali diraih oleh siswa MTs Surya Buana. Maheera Raysha Aisyah Supratman, siswa kelas 9B MTs Surya Buana, menorehkan prestasi di bidang sastra, yakni Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Bulan Bahasa dan Sastra 2024 Tingkat Kota Malang. Kegiatan ini diselenggarakan oleh SMK Putra Indonesia Malang secara daring dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra pada bulan Oktober.
Siswa yang kerap disapa Maheera ini rupanya sudah tertarik di dunia tulis-menulis sejak kelas 5 Sekolah Dasar (SD). Ia memulainya dengan genre puisi terlebih dahulu, baru merambah ke genre cerita pendek. Sejak mengetahui potensinya di dunia menulis, ia semakin menggeluti bakat dan minatnya dengan mengikuti berbagai kegiatan lomba. Ia paling suka menulis dengan tema “Kesehatan Mental”.
Maheera tertarik untuk mengikuti kompetisi kali ini karena ia ingin menyuarakan sesuatu yang berbeda melalui tulisan yang ia tuangkan. Dengan mengangkat tema tentang perjuangan seorang penyandang disabilitas, Maheera mengaku terinspirasi dari temannya sebagai penyandang disabilitas yang memiliki potensi dan kemampuan yang luar biasa. Selain itu, Maheera juga pernah melihat ada kafe yang mempekerjakan penyandang disabilitas dan memberikan harapan kepada mereka untuk memiliki kesempatan yang sama dengan lainnya. Itu juga menjadi inspirasi terciptanya ide cerita pendek ini. Maheera membutuhkan waktu selama kurang lebih dua hari untuk menyelesaikan ceritanya. Selama proses penulisan, ia sempat terkendala ketika akan menciptakan alur cerita yang sulit ditebak. Akan tetapi, dengan imajinasinya, ia mampu membuat pembaca tidak menduga akhir ceritanya. Melalui cerpen yang ditulisnya ini, Maheera ingin menyampaikan pesan bahwa seorang penyandang disabilitas memiliki derajat yang sama dengan manusia lainnya dan seseorang tidak seharusnya menghakimi mereka.
Maheera suka menulis pada malam hari dan saat hujan. Sudah ada beberapa judul cerpen yang pernah dibuatnya, di antaranya “Rumah Tanpa Pintu” dan “Runtuh”. Ia pun ingin menerbitkan novel yang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari manusia karena ia berpikir bahwa kehidupan diibaratkan seperti sungai yang mengalir. Ada jatuh, bangun, gagal, lalu bangkit kembali.
Menurut Maheera, jika seseorang ingin mengembangkan bakat di bidang kepenulisan, ia harus sering-sering menggali pengalaman dan ide baru melalui membaca. Selain itu, juga gemar mencari informasi dan mengikuti kegiatan lomba menulis.
“Saya berharap orang-orang di luar sana bisa memberikan jalan dan suara dari para penyandang disabilitas,” pungkas Maheera. (Fika Aghnia Rahma)