Cerpen: Keluar dari Bayang-Bayang
Namaku Aretta Felincia, kalian bisa memanggilku Aretta. Aku mempunyai 2 orang kakak laki-laki. Yang pertama bernama Mas Ardhi Syailendra dan kakak keduaku bernama Mas Devan Pratama. Sudah pasti aku adalah anak paling bungsu.
Jika bicara tentang anak bungsu, pasti semua orang berpikir enak di posisi itu, tetapi pada kenyataannya tidak sama sekali, seperti pengalamanku ini.
Kedua kakakku adalah murid yang berprestasi baik di bidang akademik dan non akademik. Banyak kejuaraan yang diraih mereka, misalnya di bidang akademik Mas Devan selalu jadi juara umum di angkatannya, belum lagi sebagai pemegang sabuk hitam karate, ia menjuarai beberapa event yang diikutinya, baik mewakili sekolah ataupun lomba yang diikuti secara personal. Sementara Mas Ardhi juga selalu menjuarai lomba olimpiade. Belum lagi namanya selalu terpajang sebagai murid teladan dan ketua OSIS. Keberhasilan-keberhasilan yang diraih kakak-kakakku membuatku sebagai adik mereka terjebak dalam bayang-bayang mereka.
Pertama kali aku masuk jenjang sekolah dasar, saat aku duduk di bangku kelas 1 SD tepatnya, banyak sekali orang yang sudah mengenalku dan sangat antusias berteman denganku. Pada awalnya aku bangga karena semua orang mencoba menyapa dan bersahabat denganku. Aku yang masih bodoh dan polos merasa sangat bahagia dengan keadaan yang demikian. Sampai akhirnya dengan berjalannya waktu, aku mulai memasuki tahap proses pembelajaran dari kehidupan sekolah dan sosialisasi lingkungan, aku baru menyadari sebuah kalimat yang sampai saat ini masih membuatku sakit hati jika teringat kalimat itu.
Kamu adiknya Ardhi kan? Wah saingan berat, nih!
Kamu pasti nilainya bagus karena kamu adiknya Devan.
Hello!!!! Aku Arreta! Bisakah kalian menilaiku sebagai Arretta, bukan sekadar adik Mas Ardhi dan Mas Devan? Ingin sekali aku berteriak demikian karena jujur saja hal itu menjadi beban untukku.
“Dek, ujian kenaikan kelas sudah dekat, kok Mama tidak melihat Adek belajar dari tadi? Liat mas-masmu, mereka serius belajar, Dek. Kalau Adek mau berhasil, contoh mereka.
Tidaaak! Lagi, lagi, dan lagi! Kalimat dari mamaku ini sudah aku hafal di luar kepala, apalagi sejak ujian tengah semester yang lalu yang aku hanya masuk 5 besar di kelas.
“Aku juga ingin berhasil, ingin seperti kakak-kakakku tapi jangan terus-terusan membandingkan aku dengan mereka. Aku punya kemampuan sendiri.
Kalimat itu berkali-kali aku tulis di diary-ku saat emosiku memuncak.
Aku ingin semua orang mengenaliku karena kerja keras dan usahaku, bukan karena adiknya siapa dan harus berjaya karena kakak-kakakku. Bisakah aku jadi diriku sendiri, bukan bayang-bayang kedua kakakku?
Suatu waktu, sekolah mengadakan seleksi renang untuk perlombaan tingkat SMP sekota. Berenang adalah hobiku. Aku mencoba mendaftar tanpa beban karena jujur aku tidak yakin aku lolos. Kalian tahu? Effek dari bayang-bayang kakak-kakakku adalah rasa tidak percaya diriku dalam mengerjakan apapun. Akhirnya, saat seleksi berenang tiba, aku seperti biasa tidak pernah serius berusaha, aku hanya berpikir, apakah mungkin lolos seleksi? Aku tidak berharap banyak sama sekali. Sudah terbiasa dengan kata pasrah membuatku santai dan menganggap diriku memang tidak mampu. Dangkal sekali jalan pikiranku.
Setelah 3 kali seleksi untuk gaya bebas 200 m putri, tanpa disangka, aku lolos dan terpilih menjadi delegasi sekolahku. Rasa bangga pada diriku mulai tumbuh. Orang-orang tidak bisa bicara kalau aku lolos karena kakak-kakakku, karena mereka tidak pernah ikut kegiatan yang berhubungan dengan berenang. Aku tiba-tiba merasa bahagia dan bangga dengan kemampuanku, ternyata aku juga bisa.
Yang lebih membahagiakan adalah untuk pertama kalinya aku ditunjuk sebagai delegasi sekolah cabang renang, aku berhasil membawa pulang juara 2. Benar-benar diluar dugaanku! Untuk pertama kalinya juga, ucapan selamat dan dukungan dari semua orang, terlihat tulus di mataku, karena mereka menyalamiku sebagai Aretta.
Perlombaan itulah menjadi awal mula bagiku untuk keluar dari bayang-bayang kakak-kakakku, menjadi diriku sendiri tanpa embel-embel nama besar mereka. Karena ini pulalah, aku mulai percaya diri dengan berusaha mengikuti beberapa perlombaan nonakademik dan akhirnya orang mengenalku sebagai Arreta, sang bintang di dunia olahraga.
Sungguh sebuah pencapaian yang menakjubkan yang sebenarnya aku sendiri tidak menyangka bisa melewati itu sendirian, yang membuatku bangga kepada diriku juga adalah aku bisa membuktikan bahwa aku benar-benar bisa bersinar sendiri tanpa ada campur tangan dari sinar kakak-kakakku.
“Temukan kelebihanmu sendiri dan jangan pernah merasa tidak mampu, bangkit dan berkarya sekuat tenagamu, yakinkan diri, kamu pasti bisa!” (Maheera Raysha Aisyah S. – Siswa MTs Surya Buana)