
Review Buku Kau Sedang Terbentuk: Sebuah Proses Perenungan Diri Sendiri
Buku Kau Sedang Terbentuk ditulis oleh Syahid Muhammad pada tahun 2023. Buku setebal 220 halaman ini dirilis oleh Penerbit Gradien Mediatama. Buku ini mengungkapkan perasaan hati manusia yang tengah dilanda luka batin. Penulis yang kerap disapa Mas Iid seolah menuntun kita untuk meresapi dan merenungi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia dan menyadarkan akan banyak hal tetang pemahaman kehidupan.
Buku ini berisi kumpulan prosa yang tiap lembarnya saling berkaitan dengan halaman selanjutnya. Buku bergenre self improvement ini diawali dengan permasalahan yang kerap muncul dalam hidup terutama bagi mereka yang sedang berproses menuju pendewasaan. Pembaca disuguhkan contoh-contoh peristiwa sederhana di kehidupan, lalu diberikan masukan atau nasihat bijak pada akhir setiap halamannya.
Kau Sedang Terbentuk menyuguhkan perenungan dan refleksi serta memotivasi pembaca untuk berusaha bertahan dan berjuang agar terus tumbuh. Hampir sebagian besar isi buku ini relate sekali dengan judulnya tentang bagaimana fase-fase dan proses yang dilalui oleh manusia yang tengah dibentuk oleh kehidupan. Bagaimana manusia berusaha untuk menerima apa yang terjadi pada dirinya dan berusaha untuk memperbaikinya secara perlahan. Tidak harus cepat dan instan, tapi bagaimana melaluinya dengan nyaman.
Buku ini juga tentang proses pendewasaan. Tentang bagaimana manusia berusaha untuk bertumbuh dan terus bertahan walau dalam hati kecilnya berteriak masih ingin menjadi sosok anak kecil seperti dulu. Bahwa hidup terkadang berjalan dengan tidak menyenangkan. Terkadang ada hal-hal yang menyebalkan hadir dalam hidup kita. Namun, bagaimana caranya untuk bisa menerima diri sepenuhnya dengan apa adanya.
Hubungan antara manusia satu dengan lainnya juga dipaparkan bahwa hubungan tidak selalu berjalan mulus. Kadang manusia kesal dengan yang lain, tapi di saat yang sama tidak ingin membenci mereka. Ada salah satu kutipan menarik pada buku ini. “Padahal wajar untuk punya kekesalan tertentu kepada orang-orang yang memang kita kasihi ataupun sebaliknya. Justru, ini adalah cara kita belajar memandang, bahwa tidak ada yang benar-benar sempurna. Justru karena ketidaksempurnaan itulah, kita boleh kesal tetapi tetap bisa bercanda bareng mereka.” (Hal. 87)
Melalui buku ini, pembaca belajar menerima segala bentuk emosi yang hadir dalam dirinya, baik emosi positif maupun negatif. Bagaimana mensyukuri apa yang ada dalam diri. Menerima segala bentuk emosi tanpa menolaknya.
Pilihan diksi dalam buku ini mampu menyadarkan diri pembaca. Di dalamnya juga tertuang kiasan yang membuat pembaca mesti menilik kembali apa yang baru dibaca supaya lebih memahami makna dan apa yang disampaikan. Beberapa frasa diracik dengan manis penyampaiannya sehingga nyaman untuk dibaca sampai selesai. (Fika Aghnia Rahma)