Puisi: Jenak
Desau angin yang masuk
lewat lubang kecil di sela pintu
Seolah ingin menggantikan ibu
yang jari jemarinya dengan lembut
menyugar surai dan menyeka keringatku
Rintik air yang merabas
lewat keran yang tak tertutup rapat
Seolah ingin menggantikan ayah
yang langkah kakinya dengan pelan
selalu menyambangi kamarku di tengah malam
Lalu dari gemericik hujan
aku seolah bisa mendengar sayup suara ibu
“Lelapkan lelahmu, Nak.”
dan suara ayah yang menyusul
“Kita berjalan lagi esok.”
(Khurin Wardani Fitroti)