Hukuman Pukulan Dan Efek Jangka Pendek
Seseorang bertanya kepada saya dalam salah satu platform media sosial; tentang alasan mengapa guru-guru zaman dahulu sering memberikan siswa hukuman fisik?
Efek jangka pendek dari tindakan hukuman fisik lebih mudah dilihat. Misalnya, siswa kita tidak mau belajar, kemudian kita pukul dia, maka kita bisa lihat dia akan nampak mau belajar. Setelah itu kita tes dia dengan soal-soal. Ketika dia banyak yang lupa, kita pukul lagi; beri isyarat kalau lupa adalah sebuah kesalahan. Beberapa hari kemudian ketika kita tes lagi dengan soal-soal, dia akan nampak menunjukkan perbaikan dari tes sebelumnya.
Bagaimana?
Strategi pembelajaran yang sangat efektif, bukan?
Sayangnya, salah!
Ada peribahasa yang terkenal dalam dunia pendidikan; kita bisa paksa siswa duduk diam dan membaca, tapi kita tak bisa paksa dia memahami. Syukurlah guru-guru sekarang memahami hal ini dan semakin kompeten dari generasi ke genarasi.
Kita bisa memaksa siswa duduk diam, mengingat informasi-informasi kecil dalam jangka pendek. Tetapi itu tidak memberi mereka wawasan baru dan mengembangkan pikiran mereka. Pff, menghafal; tingkat paling dasar pada taksonomi Bloom. Perlu, sih, tetapi bagaimanapun dasar hanyalah dasar. Dan pukulan? Astaga! Memangnya siswa itu tikus percobaannya B.F. Skinner? Kita membuat kesimpulan yang salah tentang yang efektif-efisien dan mana yang tidak.
Mari kita bandingkan dalam pengajaran bahasa Inggris sebagai contoh. Efek kombo hafalan-pukulan bisa dirasakan dalam jangka pendek; seminggu setelahnya siswa bisa hafal banyak kosa kata. Namun, ketika lulus sekolah nanti, mereka bisa apa? Menyebut daftar kosa kata dan rumus-rumus tata bahasa, begitu?
Lain halnya dengan membaca santai. Efek jangka pendeknya tidak akan banyak bisa dirasakan. Bisa apa siswa setelah seminggu membaca santai? Akan tetapi, jika dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu cukup lama, siswa akan siap memahami teks yang lebih kompleks dan berkomunikasi dengan baik.
Kita bandingkan lagi pada pelajaran matematika. Kombo hafalan-pukulan bisa membuat siswa menghafal rumus dan segera mengerjakan soal. Sementara itu, mengajak siswa memahami konsep lebih dahulu membutuhkan waktu yang lebih lama. Mengajak tentu saja lebih sulit daripada memberikan ancaman pukulan, tetapi efek jangka panjangnya, pukulan tidak memberikan pengaruh berarti.
Bagaimana dengan pendidikan sikap dan moral? Yah, tentu saja pukulan bisa memberi efek jangka pendek yang bagus. Misalnya, siswa bolos pelajaran untuk pergi ke kantin? Pukul! Dia akan pikir-pikir lagi kalau mau bolos lagi besok. Tapi efek jangka panjangnya? Tidak ada! Lebih baik ajak siswa mengobrol berdiskusi masalah pembolosan mereka; cari tahu solusi terbaik bersama-sama. Iya, kan?
Guru-guru zaman dahulu menggunakan pukulan karena efek jangka pendeknya terlihat jelas. Ini membuat pukulan-pukulan itu nampak seperti strategi pembelajaran yang efektif dan efisien. Sekarang tidak banyak guru yang melakukannya karena mereka mulai menyadari pukulan-pukulan itu tidak banyak memberikan keuntungan untuk jangka panjang. (A. Wiqoyil Islama)