Cerpen: Buku Catatan Prayoga
Yoga menggerakkan kakinya acak. Duduk diam dengan dahi mengerut sementara telinganya fokus mendengar celotehan teman-temannya. Ia menimbrung sesekali, tetapi  lebih banyak diam. Beberapa menit setelahnya, seorang anak kecil dengan tubuh gempal hadir di tengah mereka. Senyumnya diulas lebar. Itu Kafka, anak yang duduknya berjarak dua kursi di belakang Yoga.
“Temen-temen, liat deh!†Telunjuk kecilnya menunjuk ke arah sepatunya. Ah ternyata, Kafka memakai sepatu baru. Pandangan anak-anak berusia kurang lebih 8 tahun itu jatuh mengikuti jari telunjuk Kafka. Salah satunya berseru, “Wih, kamu pakai sepatu baru ya!â€Â
Kafka terkekeh, mengangguk antusias, “Iya! Kemarin ayahku baru pulang dari tugas ke luar kota, apa ya namanya? Oh! Sukrakata!†serunya.
Yang lain nampak fokus mendengar cerita Kafka, sementara Yoga terkekeh, “Surakarta, Kafka,†ucapnya.
Kafka mengangguk tanda ia mengerti, “Ooo… Salah ya tadi aku bilangnya?†tanyanya. Yoga mengangguk, kemudian mempersilahkan Kafka untuk melanjutkan ceritanya.
Diam-diam Yoga menunduk, menatap lamat ke arah sepatunya. Sepatu milik Kafka masih tampak bersih, jauh berbeda dengan miliknya. Sepatunya kotor, belum sempat ia cuci karena cuaca sedang tidak menentu. Sepatu sebelah kanannya dihias robek pada area punggung kakinya. Sementara pada sepatu sebelah kiri, ia mendapati kalau sol sepatunya tampak retak di beberapa bagian.
Lamunannya buyar ketika mendengar langkah kaki seseorang dari luar kelasnya. Ia menoleh, menjumpai wali kelasnya berjalan ke arah kelasnya. “Eh, Bu Ghendis udah dateng!†serunya menunjuk ke arah pintu. Menyebabkan teman-temannya yang tadi asyik bercerita di bangkunya kembali ke bangku masing-masing.
***
Bel pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Lapangan sekolah ramai dengan beberapa siswa yang bermain bola. Bangku di dekat pos satpam diisi beberapa siswa yang tampaknya masih enggan menyudahi ceritanya.
Gendhis duduk di bangku gurunya, menyelesaikan rekap nilai minggu ini. Tangannya cekatan memberi nilai pada buku catatan siswa. Pun dengan ekspresi yang berbeda-beda. Kadang matanya menyipit ketika membaca tulisan yang terlalu kecil, kadang menggelengkan kepalanya, kadang pula ia tampak terkekeh di depan buku catatan milik para siswanya itu. Kemudian ia mendengar langkah kaki yang mendekat. Gendhis mengangkat kepalanya dan mendapati Yoga berdiri di ambang pintu sembari menatapnya.
“Loh, Yoga belum pulang? Belum dijemput? Mau hubungi orang tua aja?†tanya Ghendis. Rentetan pertanyaan itu enggan ditanggapi Yoga sebelum ia berdiri tepat di depan meja guru. “Enggak, Bu Ghendis. Yoga biasanya pulang sendiri kok, kebetulan aja tadi lewatin kelas lagi abis main sama yang lain terus liat Bu Ghendis masih di sini,†jelasnya.
Senyuman tipis tercetak di birai wajah Ghendis. “Iya, Bu Ghendis masih nilai tugas kalian nih,†ucap Ghendis.
Yoga membulatkan bibirnya, kepalanya manggut-manggut setelah mendengar ucapan Ghendis. Kemudian ia bertanya, “Bu Ghendis, ada yang perlu Yoga bantu?â€Â
Ghendis tertegun. Hatinya menghangat mendengar penuturan dari bocah yang duduk di kelas 2 sekolah dasar ini. Kepalanya menggeleng, “Enggak perlu, Yoga. Sebentar lagi selesai kok, kamu pulang aja, gimana? Nanti kalau pulang terlambat kamu dicariin, lho.â€Â
Yoga nampak menimang ucapan Ghendis, kemudian kembali menatap ke arah gurunya itu. “Di rumah juga enggak ada orang, Bu. Kakek masih kerja, biasanya pulang pas mendekati waktu salat maghrib.â€Â
Ghendis kebingungan. Saat mulutnya akan mengluarkan suara untuk kembali bertanya pada Yoga, ia dikejutkan dengan teriakan di ambang pintu. “Yoga! Aku cariin kamu kemana-mana, tau! Main lagi, yuk!â€Â
Mendengar seruan temannya, Yoga mengangguk. Tangannya ia bawa untuk menyalami tangan Ghendis. “Bu Ghendis, saya main lagi ya? Kalau perlu bantuan, panggil Yoga aja gapapa, Bu!†ujarnya. Ghendis mengangguk, mempersilahkan Yoga untuk kembali bermain bersama temannya.
Fokusnya kembali ke tumpukan buku di depannya. Kurang beberapa buku lagi dan Ghendis akan pulang. Tiba saatnya ia harus menilai buku terakhir. Namun, netranya menyipit tiap membaca kalimat yang ada pada buku itu. “Aduh, tulisan siapa sih ini mepet-mepet banget? Mana kecil-kecil gini,†sungutnya. Ia membalik buku tersebut, mencoba mencari identitas sang pemilik buku. Setelahnya Ghendis temukan nama ‘Prayoga’ dengan tulisan berantakan di balik sampul buku.
Keesokan harinya, Ghendis kembali memasuki kelas 2Câ€â€yang tak lain merupakan kelas Yoga. Ia meminta salah satu muridnya untuk membagikan buku catatan yang ia nilai kemarin. Semua buku catatan itu sudah dikembalikan ke pemiliknya, tetapi berbeda dengan Yoga. Ia kebingungan karena buku miliknya belum juga dibagikan.
“Eh, bukunya enggak kurang satu?†tanyanya pada temannya yang tadi membagikan buku catatan. Anak perempuan yang duduknya tepat di sebelah kiri Yoga itu menggeleng, “Enggak, aku udah bagiin semuanya,†jawabnya.
Yoga berdiri, melangkah kea rah meja guru. Ia bertanya, “Bu Ghendis, buku Yoga enggak ada.†Nadanya terdengar sedih, bahunya turun. Ia menatap ke arah Bu Ghendis penuh harap.
Sementara Ghendis terkejut mendengar ucapan Yoga, “Loh, enggak ada? Sebentar ya,†ucap Ghendis. Tangannya merogoh ke dalam tas yang ia bawa, mencari buku catatan milik Yoga.
“Oh, ini! Aduh maaf ya, Yoga, bukunya ketinggalan di ta Ibu.†Ghendis menyerahkan buku tersebut. Yoga tampak senang, senyumnya diulas tipis. “Terima kasih, Bu Ghendis,†ucap Yoga.
Saat kaki Yoga bergerak menjauh dari meja guru untuk kembali ke bangkunya, Ghendis berseru pelan. “Yoga, kesini bentar, boleh?†Yoga mengurungkan niatnya kembali ke bangkunya. Ia mendekat ke arah Ghendis dengan tatapan bertanya.
“Yoga, lain kali kalau mau nulis tugas, tulisannya jangan kecil-kecil, ya? Jujur, kemarin Ibu agak kesusahan bacanya. Jadi, tolong kalau tulis tugas, tulisannya jangan terlalu kecil, jangan terlalu mepet juga, ya?†ucapan panjang lebar Ghendis mulai dicerna Yoga.
Tatapan Yoga jatuh pada buku yang digenggam, kemudian ia menggeleng ragu-ragu, “Yoga enggak bisa janji, Bu. Kasian kakek,†jawabnya.
Alis Ghendis nyaris menyatu mendengarnya. Ia ingin bertanya lebih, tetapi ia urungkan begitu melihat Yoga menatap sendu ke arah buku catatan miliknya. Tak menghiraukan pertanyaan yang ingin ia tanyakan, Ghendis mencoba memahami kondisi muridnya. Akhirnya, Ghendis meminta Yoga untuk kembali ke bangkunya dan memulai pelajaran pada pagi ini.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, Ghendis mencoba untuk mengabaikan pertanyaan yang tersimpan di benaknya mengenai Yoga. Walau terkadang ia masih merasa sebal saat mendapati Yoga yang masih sama mengisi buku catatannya dengan tulisan yang hampir tidak bisa dibaca.
***
Hari ini mata pelajaran yang Ghendis ajarkan dilaksanakan di kelas Yoga pada jam pertama. Ia berjalan menuju kelas 2C. Terkadang menyapa beberapa murid maupun guru lainnya yang ia temui di koridor sekolah. Sesampainya ia di kelas 2C, ia bersiap untuk mempresensi murid-muridnya.
Saat nama Yoga dipanggil, tidak ada jawaban. Kemudian teman sebangku Yoga mengangkat tangannya, “Yoga enggak masuk, Bu. Kemarin dia bilang kalau kakeknya lagi sakit,†ucapnya.
Ghendis menganggukkan kepalanya. Menutup buku presensinya setelahnya segera memulai mata pelajaran yang ia ajar.
Beberapa hari setelahnya, Ghendis merasa keheranan. Karena setiap ia mengajar di kelas 2C, Yoga masih saja absen. Bangku kosongnya ditatap oleh Ghendis. Ia beralih ke teman sebangku Yoga, “Nizam, kamu tahu rumahnya Yoga?†tanyanya.
Yang dipanggil menoleh, Nizam mengangguk, “Iya, Bu. Nizam tahu, rumahnya enggak jauh dari rumah saya kok. Ada apa, ya, Bu?†jawabnya.
Ghendis menimang keputusannya, sebelum ia berkata, “Nanti tolong antar Bu Ghendis ke sana, ya. Yoga absen beberapa hari, tugasnya numpuk banget ini. Sekalian Ibu mau jenguk kakeknya.â€Â
Begitu jam pulang sekolah sudah dekat, ia menunggu Nizam di depan kelasnya. Setelah melihat Nizam keluar dari kelasnya, Ghendis mengajak Nizam ke parkiran untuk mengambil motornya. Baru setelahnya ia dan Nizam akan mampir ke rumah Yoga.
“Bu Ghendis, rumah yoga lewat gang ini,†telunjuk kecilnya ia arahkan ke arah sebuah gang sempit di ujung jalan.
“Motor nggak bisa masuk ya?†tanya Ghendis pada Nizam.
Nizam menggeleng, “Enggak bisa, bu,†jawabnya.
Ghendis memarkirkan motornya di sebuah minimarket yang ada di depan gang tersebut. Kemudian memutuskan berjalan dengan Nizam yang berjalan mendahuluinya.
Kurang lebih 50 meter setelah memasuki gang tersebut, tibalah Ghendis pada sebuah rumah sederhana. “Ini rumah Yoga, Bu!†seru Nizam.
“Terima kasih ya, Nizam. Kamu mau ikut jenguk kakeknya Yoga atau pulang setelah ini?†tanya Ghendis.
“Hmmm… Nizam pulang aja deh, Bu. Nanti mama nyariin,†jawab Nizam.
Mendengar itu, Ghendis bertanya, “Jauh enggak rumah kamu kalau dari sini?â€Â
Nizam menggeleng, “Rumah Nizam jarak beberapa rumah dari minimarket tadi, bu. Dekat kok,†ucap Nizam meyakinkan. Setelahnya, Nizam berpamitan untuk pulang dan Ghendis melangkahkan kakinya mendekat ke arah rumah yang ada di depannya.
Setelah beberapa ketukan di pintu kayu yang tampak rapuh itu, terdengar sahutan dari dalam. Begitu pintu dibuka, ia dapat melihat Yoga dengan kaus berwarna biru yang bagian kerahnya nampak berlubang di beberapa bagian.
Yoga yang melihat Ghendis berada di depan rumahnya terkejut. Buru-buru ia menyalami Ghendis, kemudian mempersilahkan gurunya itu untuk masuk ke rumahnya. Di dalam tidak ada sofa, hanya ada tikar lusuh yang digelar di ruang tamu. Ghendis menyerahkan buah-buahan yang sebelumnya sempat ia beli pada Yoga, kemudian duduk di tikar yang ada di ruang tamu. Yoga pamit untuk menaruh buah-buahan dari Ghendis di dapur.
Ghendis mengedarkan pandangan. Menatap dinding rumah Yoga yang tampak rusak karena rembesan air hujan. Pandangannya berhenti pada sebuah pigura besar yang di pasang di dinding ruang tamu. Tampak Yoga yang mungkin usianya belum genap 6 tahun itu tersenyum ke arah kamera. Ia digendong oleh seorang laki-laki paruh baya yang bisa Ghendis tebak adalah kakeknya.
Tak lama, Yoga kembali membawa nampan yang di tengahnya terdapat satu gelas berukuran sedang berisi teh hangat. “Loh, enggak usah repot-repot, Yoga. Terima kasih, yaa,†ucap Ghendis. Ia terima satu gelas teh hangat itu dengan senyum tipis.
Setelah meminum teh tersebut beberapa tegukan, ia mengalihkan pandangannya pada Yoga, “Yoga, Ibu dengar dari Nizam kalau kakek kamu sakit. Tadi juga dia yang antar Bu Ghendis ke sini,†ucapnya. Tangannya meletakkan gelas tadi di atas tikar. Ghendis nampak menghela napasnya, “Kakek kamu masih sakit? Ibu mau jenguk,†lanjutnya.
Yoga berdiri, “Ayo Bu, saya antar ke kamar kakek,†ajak Yoga. Ghendis mengiakan ajakan itu. Ia berdiri kemudian melangkah mengikuti Yoga yang menuntunnya ke sebuah ruangan yang pada ambang pintunya ditutup tirai. Begitu masuk ke dalam kamar, dapat Ghendis lihat laki-laki paruh baya yang ada pada pigura di ruang tamu tadi tengah beristirahat. Tubuhnya tampak ringkih dan napasnya memburu.
“Kakek demam. Yoga juga bingung harus gimana.†Nada bicara Yoga menjadi sendu.
Ghendis mendekat ke arah Yoga, kemudian menyamakan tingginya dengan Yoga. “Sudah dibawa ke dokter belum?†tanya Ghendis.
Yoga menggeleng, “Enggak, Bu. Kakek sakit karena kerja terlalu berat, buat makan kami sehari-hari. Kalau dibawa ke dokter pasti mahal. Yoga enggak ada uangnya.â€Â
Ghendis merasa dadanya sesak. Yoga masih terlalu kecil untuk mengalami semua ini. Ghendis bawa tangannya mengusap surai legam milik Yoga, kemudian ia bawa Yoga ke dalam dekapannya.
Yoga mengusap air matanya yang turun tanpa ia sadari, “Makanya Yoga tulis di buku catatan kecil-kecil, ini juga alasannya, Bu. Kalau bukunya cepat habis, nanti kerjanya kakek makin berat.â€Â
Penuturan dari bocah sekolah dasar yang ada di pelukannya itu berhasil membuat tetes air mata milik Ghendis turut turun. Yoga kelewat polos, tapi alasannya juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Yoga hanya tidak mau kalau kakeknya terlalu keras dalam bekerja.
Tanpa berpikir panjang, setelah Ghendis melepaskan pelukannya dengan Yoga, Ghendis berucap, “Ayo kita ke rumah sakit, ya? Bawa kakek berobat, Yoga enggak perlu mikir masalah uangnya.â€Â
Mendengar itu, Yoga mengedipkan matanya tak percaya beberapa kali. Kemudian berbegas mengemasi barang-barang yang harus ia bawa ke rumah sakit. Ghendis meminta tolong kepada beberapa tetangga Yoga untuk mengantar kakek ke rumah sakit.
Pada minggu setelahnya, Yoga sudah kembali ke sekolah. Ia sudah dapat beraktivitas seperti biasanya. Mendengar bahwa keadaan kakek Yoga sudah membaik, Ghendis turut senang. Bahkan Yoga selalu menggumamkan terima kasih kepada Ghendis tiap ia berpapasan dengan Ghendis di sekolah.
***
Seorang anak laki-laki yang masih berseragam lengkap itu mengulas senyuman lebar di birainya. Ia terima tiga buah buku tulis berukuran B5 dari tangan kakeknya. Matanya berbinar, menatap kakek yang tengah berjongkok di depannya dengan tatapan antusias. Sementara sang kakek hanya mampu terkekeh pelan.
“Kakek, makasih!†serunya. Tubuh gempalnya ia bawa maju memeluk tubuh yang ada di depannya. Sementara tangan yang dihiasi keriput itu dibawa sang empu untuk menyugar rambut legam milik cucunya.
“Dimanfaatkan dengan baik, ya. Nulisnya yang rapi nggak apa-apa. Bukunya tebal, nggak bakal cepat habis, Yoga.†ucap kakek Yoga. (Kalila Rabbani)
ÂÂ