
Berselancar di Media Sosial? Yes or No?
Kalian tahu bukan, pada masa sekarang ini hampir seluruh masyarakat di dunia menggunakan gawai untuk kebutuhannya sehari-hari? Gawai sudah digunakan hampir dari segala kalangan, baik anak kecil, remaja, orang dewasa, bahkan lansia sekali pun. Selain itu, dengan adanya terknologi internet banyak aplikasi media sosial yang di-install dalam perangkat gawai untuk menghubungkan manusia satu dengan manusia lainnya, contohnya seperti tiktok, instagram, whatsapp, twitter, dan telegram.
Pada tahun 2020-2021 kita telah mengalami sebuah fenomena pandemi yang mengharuskan kita semua melakukan aktivitas belajar dan bekerja dari rumah secara daring. Kita hanya bisa berinteraksi lewat media sosial. Hal tersebut menjadikan frekuensi penggunaan media sosial kita semakin tinggi. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan bahwa pengguna internet di Indonesia sekarang ini telah mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.
Media sosial adalah sebuah aplikasi komunikasi atau interaksi antara pengguna satu sama lain. Salah satu contohnya adalah WhatsApp atau yang disingkat WA. Aplikasi ini sangat sering digunakan para pengguna gawai untuk berkomunikasi dengan teman, keluarga, bahkan pekerjaan. Dampak positifnya kita dapat berkomunikasi dengan mudah entah itu lewat room chat, telepon, ataupun video call. Selain, itu banyak juga aplikasi yang sering digunakan masyarakat seperti tiktok atau instagram.
Tiktok termasuk dalam kategori yang sangat banyak penggunanya terutama anak remaja sekarang. Namun, sayangnya, pada umur mereka yang rata-rata 12-17 tahun, banyak konten-konten video yang tidak seharusnya ditonton oleh anak seumuran mereka dan akan berdampak buruk jika tidak dapat memilah tontonan yang baik dan buruk.
Untuk menghindari hal tersebut ada beberapa langkah yang dapat dilakukan supaya anak dapat terhindar dari konten yang berbau negatif di media sosial, di antaranya dengan dibentuknya kesepakatan antara anak dan orang tua terkait batasan teknologi dalam keluarga, aturan batasan waktu atau screen time, pembicaraan tentang konten yang berisiko, perundungan siber, dan penyeberan berita hoaks yang begitu cepat, serta perlunya kesiapan teknologi pada anak.
Selain menggunakan media sosial, banyak juga dampak yang diperoleh seseorang apabila tidak menggunakan gawai dengan baik, seperti kecanduan gawai, interaksi secara tatap muka cenderung menurun, menimbulkan konflik, dan sebagainya. Maka dari itu mari kita semua mengatur waktu kita untuk bermain gawai dan media sosial. Biasakan untuk menggunakan gawai maksimal 2 jam per hari karena jika terlalu lama, radiasi yang ditimbulkan tidak baik untuk mata kita. Semoga kita bisa bijak dalam menggunakan gawai dan bermedia sosial ya, Teman-teman! (Vinzadinia Reva Queen Razita/7C)