Sejarah mencatat bahwa penanggalan tahun baru hijriyah pertama kali dibuat pada pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu. Dengan banyak pendapat serta pertimbangan maka untuk hitungan tahun pertama hijriyah yang dipilih oleh Khalifah Umar Bin Khattab adalah tahun dikala hirahnya nabi Muhammad Shallallahu' alaihi wa sallam dan para sahabatnya ke Kota Madinah.

Hari ini kita memasuki tahun baru hijriyah yang ke 1442, artinya sejak peristiwa Hijrahnya Nabi dan para sahabatnya ternyata telah memasuki usia 14 abad lebih dari peristiwa tersebut.

Peristiwa Hijrahnya Nabi ke Kota Madinah adalah suatu peristiwa yang sangat fenomenal, yang merupakan batu pondasi menuju kemajuan dan perkembangan Islam dan kaum Muslimin . Kita tentu tahu betapa sulitnya perkembangan dakwah Islam pada awal-awal diutusnya nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Segala upaya baik pikiran dan tenaga telah dikerahkan oleh beliau dan para sahabatnya agar perkembangan Islam berjalan dengan lancar dan sukses, namun selalu saja ada kebuntuan dan onak duri yang menghalangi jalan dakwah mereka.

Berbekal informasi dari orang dekat beliau Sallallahu 'alaihi wa sallam dan tentu saja pertolongan dari Allah maka dipilihlah kota Madinah sebagai tempat untuk menyelamatkan agama dan jiwa kaum Muslimin dari pengejaran dan gangguan kaum kafir quroisy jahiliyah Mekkah. Singkat cerita, Allah Ta'ala pun memudahkan kaum Muslimin dalam hijrah mereka dari Mekkah ke Kota Madinah dengan aman dan selamat. Dari kota Madinah inilah Nabi mulai menyusun strategi dalam dakwah dan membentuk suatu pemerintahan yang Madani sehingga Islam berkembang dengan pesat dalam kurun waktu yang tidak lama.

Itulah sekilas sejarah singkat terjadinya peristiwa hirahnya Nabi dan para sahabatnya ke Kota Madinah, dimana banyak kaum muslimin memperingati tahun hijriyah dalam rangka mengenang peristiwa yang sangat besar dalam agama Islam tersebut.

Hijrah memiliki makna perubahan atau perpindahan. Jika kita telusuri peristiwa Hijrahnya Nabi, maka hijrah yang dilakukan nabi dan para sahabatnya adalah berpindah dari tempat yang genting menuju ke tempat yang lebih aman demi menjaga agama dan jiwa mereka. Betul, bahwa tidak ada lagi peristiwa hijrah dalam agama dari satu daerah ke daerah lain setelah hijrahnya nabi ke kota Madinah, namun makna hijrah diperluas oleh para ulama terdahulu maupun sekarang. Mulai dari hijrah dari kesyirikan kepada tauhid, hijrah dari kebodohan kepada ilmu, hijrah dari kemaksiatan kepada ketaatan, hirah dari kemalasan kepada rajin, hijrah dari membuka aurat kepada berhijab dan banyak lagi makna hijrah yang lain. Selama hijrah bisa membuat suatu perubahan dari sesuatu yang tidak baik menjadi sesuatu yang baik maka itulah makna hijrah yang sesungguhnya.

Makna-makna hijrah yang disebutkan di atas sering kali kita dengar dari para da'i dan penceramah tatkala memperingati tahun baru hijriyah. Karena memang inti dari pada peringatan ini adalah adanya perubahan ke arah yang lebih baik.

Hijrah menjadi lebih baik adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa ditawar lagi bagi seorang muslim. Seseorang lebih mengetahui kadar dirinya, darimana dan apa saja yang perlu untuk berubah, karena setiap orang berbeda-beda persoalan dalam dirinya.

Semangat hijrah di tahun baru Islam hanyalah langkah awal untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki diri. Sehingga momen untuk mengevaluasi diri bukan hanya pada tahun baru hijriyah semata, melainkan dilakukan setiap hari. Hanya memanfaatkan tahun baru hijriyah untuk mengevaluasi diri tanpa dilakukan di hari-hari yang lain maka sampai kapan pun kita tidak akan pernah merasakan perubahan yang berarti.

Berhijrah bukan tentang pengakuan diri di hadapan manusia, namun ada pembuktian antara dirinya dengan Allah untuk melakukan perubahan diri yang diridhoi oleh Allah Ta'ala. Berhijrah bukanlah karena ikut - ikutan dalam perubahan lahiriyah semata tanpa ada niat untuk suci untuk berubah dalam hal bathiniyah. Orang yang Berhijrah karena berangkat dari hati yang mendalam dan karena dorongan spiritual maka hijrahnya akan terlihat secara lahiriyah dan bathiniyah. Akan tetapi jika hijrah hanya sekedar memfokuskan lahiriyah semata tanpa memperhatikan bathin maka yang tersisa adalah semakin memburuk hubungan diri dengan sang Khaliq dan sesama manusia.

Berhijrah dilakukan di semua lini kehidupan, baik diri sendiri, dalam keluarga, masyarakat bahkan dalam berbangsa dan bernegara. Berhijrah untuk diri sendiri bisa dimulai dengan meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat menuju hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Berhijrah dalam ruang lingkup keluarga, setiap orang melakukan perannya masing-masing. Jika perannya sebagai seorang anak maka langkah perubahan baik yang bisa dilakukan adalah menjadi anak yang saleh, lebih berbakti lagi kepada orang tuanya, lebih rajin dan fokus lagi serta tidak meninggalkan tugasnya sebagai seorang pelajar. Berubah menjadi pribadi yang sopan santun terhadap orang tua, guru dan teman-temannya.

Berhijrah bagi orang tua, dengan lebih baik lagi menjadi kepala rumah tangga bagi seorang ayah, berubah lebih baik dalam mengurus rumah tangga bagi ibu seorang ibu, dan menjadi lebih baik dalam mendidik dan membina serta memperhatikan anak-anaknya, baik ibadah anak-anaknya, pendidikan anak-anaknya maupun nafkah yang diberikan kepada anak-anaknya. Semuanya harus diperhatikan oleh orang tua.

Berhijrah dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara bisa kita lakukan dengan berubah menjadi insan yang bermanfaat untuk orang lain. Semua orang punya kapabilitas diri untuk diolah agar bisa bermanfaat buat orang lain. Apalagi momen tahun baru hijrah ini hampir bersamaan dengan HUT kemerdekaan Republik Indonesia maka sudah saatnya kita memikirkan apa kontribusi kita yang bisa kita berikan kepada bangsa dan negara tercinta.

Tidak dipungkiri bahwa dalam berhijrah membutuhkan pengorbanan yang luar biasa serta beratnya istiqomah berada di atasnya. Memang sesuatu yang mahal harus diraih dengan pengorbanan dan keistiqomahan. Akan tetapi jika kita mengingat janji dan balasan Allah bagi orang yang istiqomah dengan jalan hijrahnya maka akan merasa kuat dalam menghadapi segala ujian dan tantangan bagi orang yang berhijrah. Maka berbahagialah bagi mereka yang istiqomah dalam jalan hijrah.

Semoga tahun baru hijrah 1442 H membawa semangat baru dalam diri kita agar menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Aamiin

Oleh : Moh. Hasan Igo, S.Pd.
Pengajar : MTS SURYA BUANA