Benarkah Aku Mengidap Penyakit Mental?
Benarkah aku mengidap penyakit mental? Pertanyaan tersebut mungkin kerap kali mampir di kepala sebagian dari kita. Tidak memandang orang dewasa ataupun remaja. Sebagian dari kita pasti pernah mencari jawabannya di internet atau beberapa buku dan jurnal yang relevan. Akan tetapi, sudah tepatkah langkah yang kita ambil tersebut? Terutama bagi para remaja yang rentan kondisi emosional dan psikisnya, apakah mengandalkan mesin pencarian google adalah keputusan yang bijak?
Hal ini tentu tidak lepas dari kemajuan teknologi masa kini. Derasnya arus informasi yang datang dari berbagai macam platform, memudahkan kita untuk mencari hampir semua hal lewat sana. Tak terkecuali tentang hal yang berhubungan dengan penyakit mental. Akan tetapi, jika keran informasi itu tidak kita filter kontennya, maka yang terjadi adalah kesalahan dalam memahaminya. Bahkan lebih parah lagi jika kita menelan mentah-mentah informasi yang kita dapat tanpa melakukan cross check melalui ahlinya. Inilah hal yang mengkhawatirkan, terutama jika berhubungan dengan penyakit mental.
Di mesin pencarian, kita dapat mengetikkan kata kunci penyakit mental,kemudian hanya dengan sekali klik beratus informasi akan terpampang di depan kita. Mulai dari jenis-jenis penyakit mental, gejalanya, penyebabnya, bahkan hingga efeknya akan tertera di sana. Informasi inilah yang harus kita saring agar kita tidak terjebak dalam kungkungan self-diagnose. Self-diagnose merupakan tindakan mendiagnosa penyakit dalam diri sendiri berdasarkan informasi yang dicari tanpa ada bantuan atau validasi dari para ahli. Tindakan ini sangat rentan dilakukan oleh para remaja, meskipun tidak jarang juga orang dewasa melakukan hal yang sama. Self-diagnose tak ubahnya lingkaran setan. Kita cemas karena merasa ada yang salah dalam diri kita, kemudian meyakini bahwa kita mengidap sebuah penyakit mental, akhirnya kita cemas karena kita mengidap penyakit tersebut, dan ditambah kita cemas karena kita mencemaskan kondisi kita. Dalam kondisi yang lebih parah, mungkin kita akan takut untuk konsultasi kepada ahlinya sehingga kita tidak bisa mendapatkan pertolongan yang tepat.
Namun, hal yang terpenting adalah kewaspadaan dan kesadaran diri. Apabila kita merasa diri kita sedang tidak baik-baik saja, emosi kita naik turun, kehilangan motivasi untuk melakukan apapun, sering merasa cemas berlebihan, atau hal-hal lain yang menurut kita tidak wajar maka langkah yang paling bijak bukanlah membuka tab pada mesin pencarian dan memercayai vonis yang tertera di sana berdasarkan gejala yang kita alami.
Self-diagnose tidak sepenuhnya salah, melainkan itu hanyalah tahap awal yang menunjukkan bahwa kita menyadari ada yang tidak baik-baik saja pada diri kita. Langkah selanjutnya yaitu konsultasi dengan orang yang ahli di bidang tersebut, psikolog misalnya. Kita tidak serta-merta memercayai hasil self-diagnose, melainkan membawa asumsi tersebut kepada ahlinya untuk divalidasi ketepatannya. Pada era mutakhir sekarang ini, mencari jasa layanan psikolog juga terbilang mudah, bahkan tidak hanya melayani secara luring, ada juga layanan psikolog yang tersedia secara daring. Di puskesmas-puskesmas pun sudah banyak jasa psikolog yang dapat kita manfaatkan dengan atau tanpa fasilitas BPJS. Mudahnya akses menggunakan jasa psikolog ini menunjukkan bahwa ada lentera kecil untuk mereka yang berjuang memulihkan mentalnya, bahwa negara kita sudah mulai melek terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental. Karena tidak hanya fisik kita saja yang membutuhkan pertolongan saat terluka, tetapi mental kita pun demikian. (Khurin Wardani Fitroti)