
Bagaimana Sih Toxic Friendship yang Kerap Dialami Remaja?
Saat ini lingkup pertemanan remaja sudah sangat luas. Beberapa dari mereka bahkan memiliki teman dari luar kota hingga luar negeri. Apalagi dengan adanya media sosial yang membuat masyarakat mudah mendapatkan teman baru.
Sejatinya, remaja sangat membutuhkan teman. Hal itu juga tidak terlepas karena manusia adalah makhluk sosial yang tentunya perlu bersosialisasi dengan orang lain. Sosok teman yang baik tentunya yang dapat memberi dukungan, mengurangi stres, dan mendorong kita menjadi individu yang lebih baik. Teman juga kerap dianggap sebagai support system yang baik.
Namun, ada kalanya pertemanan menjadi tidak sehat. Hubungan ini membuat seseorang merasa tidak didukung, direndahkan, bahkan dikucilkan. Hal ini terjadi karena adanya salah satu teman yang merasa paling dominan sehingga dia tidak mau mendengar atau merespon temannya yang lain. Mereka cenderung menguasai obrolan dan jarang menunjukkan minat yang tulus dalam pertemanan. Selain terjadi karena teman yang cenderung dominan, pertemanan ini juga dapat terjadi karena candaan yang berlebihan antara satu sama lain. Hubungan yang seperti ini dapat merusak mental. Namun, banyak remaja yang takut untuk keluar dari zona ini karena mereka takut akan tidak memiliki teman di masa yang akan datang. Walau sebenarnya mereka memiliki banyak teman.
Hal seperti itu adalah toxic friendship. Toxic Friendship merupakan situasi lingkungan pertemanan seseorang yang tidak sehat dan membuat seseorang merasa tidak didukung maupun direndahkan sehingga berpotensi mengganggu kesehatan psikologis karena bisa menyebabkan seseorang menjadi cemas, stres, dan sedih. Menurut Dr. Primatia Yogi Wulandari, S.Psi. selaku dosen psikologi pendidikan dan perkembangan UNAIR, situasi tersebut harus secepat mungkin diatasi karena berpotensi besar mengganggu kebahagiaan dan kesehatan psikologis.
Nurchayati, S.Psi., M.A., Ph.D., dosen Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), memaparkan beberapa ciri teman yang toksik, yakni senang merendahkan, mempermainkan dan menjadikan teman sebagai bahan gosip, serta senang membuat jiwa kurang tenang dan nyaman. Teman toksik juga tidak segan untuk menyakiti, membanding-bandingkan dan memperlakukan temannya sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadinya. Bahkan, mereka juga bisa meracuni pertemanan dengan kebohongan.
Nah kalau sudah terjebak dalam toxic friendship apa yang harus kita lakukan? Yang pertama bahas keluh kesah dalam pertemanan. Batasi interaksi supaya sikap teman kita tidak terlewat batas. Selain itu bertemanlah dengan teman yang bisa memberi nilai positif pada dirimu. Di samping itu, peran orang tua juga sangat penting untuk menjadi rumah tempat anaknya untuk berkeluh kesah sehingga sang anak pun tidak merasa sendirian. (Echa Novriananda Iswahyudi dan Rizqia Jameela Permana/7D)