Book Review Ikan Kecil Karya Ossy Firstan
Bagaimana jika anak yang kamu tunggu-tunggu kehadirannya ternyata lahir dengan kondisi tidak seperti yang kamu harapkan? Pertanyaan tersebut kiranya akan terjawab melalui buku ini. Ikan Kecil menceritakan perjuangan Deas dan Celoisa, pasangan suami istri dalam menerima dan mengasuh anak mereka yang divonis autis. Buku ini ditulis oleh Ossy Firstan, penulis yang memulai kiprahnya di dunia wattpad. Buku setebal 248 halaman ini diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2019.
Mengapa diberi judul Ikan Kecil? Hal ini disinggung pada salah satu scene di buku ini melalui percakapan antara Deas dan Loi (panggilan Celoisa). Mereka mengibaratkan janin seperti ikan kecil, alhasil yang dimaksud ikan kecil adalah sebutan kesayangan untuk anak mereka yang waktu itu belum lahir.
Kebahagiaan mereka itu terganggu oleh kenyataan bahwa Olei, anaknya, divonis autis. Hal ini mereka ketahui setelah beberapa bulan Olei masih tidak menunjukkan perkembangan seperti anak seusianya. Dia tidak pernah meramban (rambling) dan tidak merespon ketika ada suara padahal pendengarannya dinyatakan normal oleh dokter. Hal ini membuat Deas dan Loi terpukul.
Namun, respon Deas dan Loi terhadap masalah ini sangat berbeda. Deas membulatkan pola pikirnya untuk fokus kepada terapi dan pola pengasuhan Olei, sedangkan Loi masih bergumul dengan pikirannya yang rumit. Ia sering menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik. Dia merasa tidak menjaga Olei dengan maksimal saat masih berada di kandungan. Pikiran-pikiran negatif yang tinggal di kepalanya itu akhirnya termanifestasi dalam perlakuannya terhadap Olei. Loi membuat jarak kepada anak semata wayangnya itu.
Saya suka sekali bagaimana buku ini terasa amat ringan, tetapi tidak mengurangi esensi konflik yang diangkat. Malah menurut saya sangat informatif dan inspiratif. Hal yang membuat buku ini menarik adalah unsur informatif dan inspiratif yang disajikan tercermin melalui tindakan tokoh, bukan sekadar narasi penulis sehingga tidak menimbulkan rasa bosan, kaku, ataupun menggurui.
Lewat tindakan-tindakan Deas, kita bisa menyimpulkan betapa kreatifnya dia. Kreatif dalam artian bukan hanya karena dia adalah dosen Seni Rupa, tetapi caranya mengatasi krisis dalam keluarganya. Cara-cara kreatifnya dalam mengajak Celoisa berkomunikasi dan kerja sama membuat karakternya hidup dan berkesan. Salah satu contohnya, dia mengumpulkan berbagai jurnal tentang autis, membacanya, lalu merangkum isi jurnal-jurnal itu untuk didiskusikan dengan Loi. Bahkan dia juga menempelkan hiasan-hiasan dinding yang berisi fakta-fakta atau tips cara mengasuh anak autis. Hal itu ia lakukan agar Loi tetap terlibat dalam perawatan Olei, meskipun istrinya itu masih tetap tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Salah satu kalimat dari Deas yang berkesan untuk saya adalah:
“Aku mau Olei tahu orangtuanya sayang sama dia. Bahwa dia ada karena orangtuanya yang meminta ada, dan dia merasa beruntung punya kita sebagai orangtua.â€Â
Meskipun mengangkat topik yang terkesan berat, Ossy berhasil mengemasnya melalui scene yang pendek dan tidak bertele-tele ataupun dramatis sehingga pembaca mendapatkan kesan yang santai saat membaca. Bahkan suatu hal yang terbilang intens pun dinarasikan penulis dengan ringan.
Ossy juga menghadirkan tokoh pendukung yang juga memiliki anak disabilitas. Melalui scenes dengan mereka ini, pembaca mendapatkan informasi-informasi penting terkait orang-orang disabilitas. Novel ini juga memberikan insight tentang beragam spektrum autis dan hal tersebut dapat memantik rasa penasaran pembaca untuk mencari tahu lebih jauh tentang topik itu.
Namun, hal yang mengganggu pikiran saya adalah mengapa Deas tidak segera mengajak Loi untuk mengunjungi psikolog keluarga? Mengingat karakter Deas yang tanggap, ditambah dukungan yang selalu ada dari orang tua mereka, rasanya akan lebih masuk akal jika Deas membawa istrinya menemui psikolog untuk membantu Loi memulihkan kesehatan emosionalnya. Bagi saya, hal tersebut menjadi sebuah plot hole kecil dalam buku ini. Selain itu, saya juga menyayangkan penamaan karakter yang terbilang mirip satu sama lain, misalnya Loi-Olei-Olan, Diar-Dian. Tentunya, hal itu hanyalah ketidaknyamanan minor yang saya alami pribadi dan tidak terlalu mengganggu.
So, the conclusion is I highly recommend this book. I added this one on my “The Book You Should Read Before You Get Married or Decided to Have a Child†shelf. Kalau ingin membaca novel ringan tapi isinya ‘daging’, novel ini adalah pilihan yang tepat. Jumlah halamannya pun tidak terlalu tebal sehingga bisa diselesaikan dalam waktu singkat. (Khurin Wardani)