Malang Kota – Berbagai macam cara yang dilakukan masyarakat Indonesia dalam memperingati Hari Kartini. Peringatan yang jatuh pada tanggal 21 April itu merupakan kegiatan rutin yang dilakukan khusunya oleh lembaga pendidikan setiap tahun. Tanpa terkecuali di Madrasah Tsanawiyah Surya Buana. Madrasah yang terletak di Jl. Gajayana IV/631 Malang itu memperingati Hari Kartini (21/04/2016) dengan sangat meriah.

Pagi itu (Kamis, 21/04/2016) tidak seperti biasanya, siswa dan guru datang dengan mengenakan berbagai pakaian adat daerah di Indonesia. Ada yang pakaian adat Jawa, Ponorogo, Betawi, Riau, dan hampir semua pakaian adat ada di situ. Guru pun sudah siap menyambut kedatangan siswa di depan pintu. Satu persatu siswa yang datang bersalaman dengan bapak/ibu guru dan masuk ke sekolah dengan penuh semangat.

Kegiatan diawali dengan mengaji dan Salat Duha 8 rakaat, seperti pembiasaan keseharian di Madrasah yang konsen di bidang riset itu. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan. Sebelum pembukaan, Kepala Madrasah, Akhmad Riyadi menyampaikan selamat Hari Kartini kepada Bapak/Ibu guru/karyawan dan semua siswa MTs Surya Buana. “Hari ini kita semua memperingati hari kartini, saya mengucapkan Selamat Hari Kartini. Bapak/Ibu guru/karyawan dan anak-anak berpakaian adat yang beraneka ragam, ada Riau, Ponorogo, Jawa,  Sumatera, dan hampir semua daerah ada di sini. Hal ini menunjukkan bahwa kita sebenarnya tetap bersatu dalam perbedaan”, katanya. Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa selain lomba nantinya juga akan diadakan pemilihan kostum adat terbaik bagi guru/karyawan dan siswa. “Bapak/Ibu guru/karyawan akan memilih anak-anak dengan kostum adat terbaik, begitupun sebaliknya anak-anak dimohon memilih kostum adat terbaik untuk bapak/ibu guru/karyawan, melalui selembar kertas yang sudah dibagikan. Silahkan menuliskan satu Bapak Guru/Karwan dan satu Ibu Guru/Karyawan yang menurut kalian memakai kostum adat terbaik,” katanya.

Pembukaan pun dimulai, MC dari OSIS mulai memandu acara pembukaan. Pembukaan diawali dengan sambutan Bapak Direktur Perguruan Surya Buana, Abdul Djalil Zuhri. Abah Djalil menyampaikan bahwa ia teringat ketika  dulu memimpin MIN Malang I, MTsN Malang I, MAN 3 Malang dan sekarang MTs Surya Buana. “Semua madrasah di Jl. Bandung itu, semula tidak ada yang melirik. Alhamdulillah dengan kerja keras dan usaha maksimal yang diiringi dengan do’a akhirnya semuanya berhasil, termasuk sekarang di Surya Buana. Prestasi kita sekarang sudah sampai tingkat Internasional,” kata Bapak periah UIN award tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh salah satu guru MTs Surya Buana yakni Fifin Endriana. Hal itu disambut dengan tepuk tangan meriah oleh seluruh siswa dan bapak/ibu guru/karyawan. Ibu guru asal Ponorogo itu membacakan puisi hasil karyanya dengan penuh penghayatan. Berikut salinan puisinya:

 

SEBUT AKU KARTINI, BUKAN KARTONO

 

Perkenalkan akulah Kartini, bukan Kartono

Aku menuntut ilmu bukan untuk bersaing dengan Kartono

Aku pun bekerja bukan karena ingin merebut jabatan Kartono

Apalagi untuk menentang agama, nauzubillah

Namun, inilah cita-cita sederhanaku

Aku tak ingin jadi Kartini biasa

Yang berkutat pada urusan kasur, dapur, dan sumur

Aku ingin fastabiqul khoirot, berlomba dalam kebajikan

Aku ingin tak hanya darah dagingku yang luar biasa

tapi juga darah daging bangsa

Aku ingin Indonesia-ku tak lagi dipandang sebelah mata

Aku ingin Indonesia-ku tersenyum tawadu di antara bangsa-bangsa lain

karena integritasnya

Inilah cita-cita sederhanaku

Seorang Kartini, bukan Kartono

Yang tinggal di bumi Indonesia tercinta

Yang sudah merdeka dan berdaulat

 

Setelah itu acara dilanjutkan dengan pemilihan kostum adat terbaik dari siswa. Satu persatu siswa yang masuk nominasi dibacakan oleh Wiwik Sulistyowati, salah satu juri dalam lomba pemilihan kostum adat terbaik untuk kategori siswa. Setiap kelas dipilih 1 putra dan 1 putri. Total semua ada 24 finalis. Dari ke-24 finalis itu dipilih 3 putra dan 3 putri untuk menjani tes wawancara. Juri yang terdiri atas Wiwik Sulistyowati, Diah Agustina dan Moh. Saleh melakukan wawancara kepada 6 finalis itu, sehingga terpilihlah siapa saja yang terbaik. Mereka itu adalah untuk putra Nixon Farrel Mahatma mendapat juara 1, Andreanto Pradana  mendapat juara 2, Rifqi Adiyatma Nur Shafa mendapat juara 3. Sedangkan pemenang putri diraih oleh Ananda Bella Oktaviani sebagai juara 1, Hazara Nadhifa R. El-Hakeem sebagai juara 2, dan Charismatul Fikriyah sebagai juara 3. Sementara pilihan siswa untuk kategori kostum adat terbaik bapak/ibu guru/karyawan diraih oleh Farihul Muflihin dan Fifin Endriana.

Ditempat yang berbeda juga berlangsung beberapa lomba, yakni Lomba Mading,  surat untuk guru, dan block tower. Lomba Mading berlangsung di kelas masing-masing. Setiap kelas mengisi dan menghias mading yang ada dikelasnya. Selain isi, kreativitas pun menjadi salah satu poin penilaian dalam lomba itu. Juri yang terdiri atas Mabrur, Siti Zubaidah dan Miftakus Saadah akhirnya menetapkan kelas 7-A sebagai juara 1, kelas 8-D sebagai juara 2, dan kelas 9-D sebagai juara 3.

Sementara lomba surat untuk guru berlangsung di kelas 7C. Teknis lombanya yakni siswa perwakilan dari kelasnya masing-masing menulis surat yang ditujukan kepada salah satu guru pilihan mereka. Isi suratnya boleh harapan atau kesan. Mereka diberi waktu 60 menit untuk menyelesaikan lomba itu. Setelah semua peserta selesai, akhirnya surat itu dikumpulkan untuk kemudian diseleksi oleh para juri. Adapun jurinya yakni Fifin Endriana, Linda Listriana, dan Moh. Hasan Igo. Juri sempat bingung memilih surat terbaik karya siswa. Menurut salah juri, Moh. Hasan Igo semua surat karya anak-anak bagus semua. “Anak-anak luar biasa, kemampuan menulisnya sudah baik. Kami dibuat bingung untuk memilih yang terbaik. Tapi namanya perlombaan harus ada juaranya, ya akhirnya kami berdiskusi untuk menetapkan juaranya,” ungkap guru yang sudah hafal Alquran tersebut. Hasil diskusi ketiga juri akhirnya diperoleh juara 1: Zhafarina Dhiya 'Ulhaq, juara 2: Warda Rizqy Fitria, dan juara 3: Amalia Aida Muhammad.

Berbeda lagi dengan lomba Block Tower. Lomba yang satu ini tidak kalah serunya. Setiap kelompok yang beranggotakan 2 orang harus mengambil balok satu persatu dengan satu tangan yang sebelumnya sudah tersusun seperti menara. Balok yang sudah diambil ditaruh lagi diatasnya dengan ketentuan tidak boleh roboh, demikian seterusnya. Kelompok yang menaranya roboh dinyatakan kalah. Teriakan para pendukung masing-masing kelas membuat suasana semakin seru. Para peserta semakin bersemangat. Ketiga juri yang beranggotakan Moh. Yusuf, Farihul Muflihin, dan Salman sakif akhirnya memutuskan peraih juara 1 kelas 9-D, juara 2 kelas 7-D, dan juara 3 kelas 8-A.

Kegiatan dilanjutkan dengan istirahat, makan siang dan salat duhur berjamaah. Setelah itu diteruskan dengan lomba cerdas cermat. Dalam lomba ini terdiri dari 2 babak, yakni babak penyisihan grup dan babak final. Adapun grupnya yaitu grup kelas 7, grup kelas 8 dan grup kelas 9. Babak penyisihan dilakukan dengan adu cepat, kelompok yang betul menjawab mendapatkan skor +10, jika salah -5. Jika ada kelompok yang salah menjawab soal, maka soal bisa dilempar ke kelompok lain yang bisa jawab. Dari babak penyisihan diambil 1 kelompok terbaik dari kelas 7, 8 dan 9 untuk maju ke babak final. Soal dalam babak penyisihan mencakup materi pelajaran di masing-masing jenjang. akhirnya diperolah 3 kelompok terbaik. Babak finalpun dimulai, soal dalam babak final mencakup pengetahuan umum dan pengetahuan seputar Kartini. Juri dalam lomba itu yakni Taufiq Hidayanto, Dewi Faizah, dan Faridatul Aliyah. Adapun pemenangnya adalah kelas 9-A juara 1, kelas 8-B juara 2 dan kelas 7-A juara 3.

Lomba yang terakhir adalah merangkai bunga. Semua peserta dari lomba ini adalah siswa putri. Mereka sudah mempersiapkan konsep, alat dan bahan dari rumah. Ketika waktu lomba dimulai, mereka dalam kelompok membagi tugas agar bisa selesai tepat waktu. Ada yang menggunting, ada yang menempel dan lain-lain. Hasilnya sangat menakjubkan. Para juri menilai bahwa hasil karya anak-anak, sangat bagus dan mempunyai nilai jual yang tinggi. “Anak-anak kita mempunyai jiwa seni dan kreativitas yang luar biasa, hasil karya anak-anak ini layak dipasarkan, tidak kalah dengan bunga yang beredar dipasaran,” ungkap Murti Sari Tuntas, salah satu juri dalam lomba itu yang juga guru dengan segudang karya lukisnya yang menasional. Pemenangnya yakni kelas 9-D juara 1, kelas 7-D juara 2 dan kelas 9-C juara 3.

Setelah semua lomba selesai dilaksanakan acara pada hari itu diakhiri dengan salat asar dan penutupan. Acara langsung ditutup oleh Kepala MTs Surya Buana, Akhmad Riyadi. Beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh Bapak/Ibu Guru/Karyawan, panitia, semua siswa, serta semua pihak yang telah membantu menyukseskan acara itu. “Alhamdulillah, acara bisa berjalan dengan baik dan sukses. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah membantu dan berpartisipasi dalam acara ini. Selamat kepada para pemenang, bagi yang belum menang jangan kecewa. Masih ada lomba-lomba lain, yang bisa kalian ikuti. Terus semangat dan berprestasi,” pesannya”. (ar)